Arenabetting Situs Judi Bola Sbobet Terpercaya

Xabi Alonso Resmi Angkat Kaki, Final Piala Super Jadi Titik Balik di Madrid

Arenabetting – Real Madrid akhirnya memutuskan berpisah dengan Xabi Alonso. Kekalahan dari Barcelona di final Piala Super Spanyol 2026 tampaknya jadi momen terakhir yang membuat manajemen kehilangan kesabaran terhadap pelatih berusia 44 tahun tersebut. Keputusan ini cukup mengejutkan, mengingat Alonso baru ditunjuk pada musim panas lalu untuk menggantikan Carlo Ancelotti yang hijrah ke Timnas Brasil.

Di awal masa tugasnya, Alonso sebenarnya terlihat menjanjikan dan bikin publik Bernabeu optimistis.

Start Kencang, Madrid Sempat Terbang Tinggi

Pada fase awal musim, Real Madrid tampil luar biasa. Dari 14 laga pertama, mereka mampu meraih 13 kemenangan, termasuk menaklukkan Barcelona dengan skor 2-1. Saat itu, Los Blancos nyaman bertengger di puncak klasemen LaLiga dan juga bersaing di papan atas fase grup Liga Champions.

Permainan tim terlihat solid, lini depan tajam, dan pertahanan cukup disiplin. Banyak yang mulai percaya bahwa Alonso adalah sosok yang tepat untuk memulai era baru di Santiago Bernabeu.

Namun, grafik performa itu tidak bertahan lama.

Performa Turun, Hasil Negatif Mulai Datang

Memasuki periode berikutnya, performa Madrid justru menurun drastis. Kylian Mbappe dan kawan-kawan hanya mampu memenangi tiga dari sembilan pertandingan di semua kompetisi. Lebih parahnya lagi, mereka menelan kekalahan di kandang sendiri dari Celta Vigo dan Manchester City, hasil yang jelas sulit diterima publik Madrid.

Di LaLiga, posisi puncak yang sebelumnya dikuasai Madrid akhirnya direbut oleh Barcelona. Tekanan pun makin besar, baik ke tim maupun ke kursi pelatih.

Menurut laporan media, manajemen sebenarnya tidak sepenuhnya ingin melepas Alonso. Mereka juga paham bahwa tidak semua masalah bisa ditimpakan ke pelatih semata. Tapi di klub sebesar Real Madrid, hasil di lapangan tetap jadi ukuran utama.

Ruang Ganti Retak Jadi Masalah Tambahan

Selain hasil pertandingan, suasana di ruang ganti juga disebut ikut memengaruhi keputusan ini. Gaya kepemimpinan Alonso kabarnya tidak sepenuhnya cocok dengan semua pemain. Beberapa nama besar disebut kurang nyaman, bukan hanya Vinicius Junior, tapi juga pemain penting lain seperti Jude Bellingham dan Federico Valverde.

Ketika hubungan pelatih dan pemain mulai renggang, situasi biasanya sulit diperbaiki, apalagi di tengah jadwal padat dan tekanan tinggi.

Puncaknya terjadi saat Madrid kalah 2-3 dari Barcelona di final Piala Super Spanyol yang digelar di Jeddah pada 11 Januari. Kurang dari 24 jam setelah laga tersebut, klub langsung mengumumkan perpisahan dengan Alonso.

Pergi dengan Catatan yang Masih Layak

Meski berakhir cepat, catatan Alonso bersama Madrid sebenarnya tidak bisa dibilang buruk. Dari 34 pertandingan yang ia pimpin, Madrid meraih 24 kemenangan atau sekitar 70 persen tingkat kemenangan. Angka ini masih tergolong tinggi dan hanya kalah dari beberapa pelatih top dalam dua dekade terakhir seperti Ancelotti, Jose Mourinho, dan Manuel Pellegrini.

Namun di Real Madrid, statistik bagus saja sering kali belum cukup. Stabilitas, harmoni tim, dan tentu saja trofi tetap jadi tuntutan utama.

Kini, Madrid kembali memasuki fase baru, sementara Alonso harus menerima kenyataan bahwa perjalanan singkatnya di klub lamanya berakhir lebih cepat dari yang banyak orang perkirakan.