Arenabetting – Kepergian Xabi Alonso dari Real Madrid bikin banyak alis terangkat. Baru beberapa jam setelah Los Blancos kalah 2-3 dari Barcelona di final Piala Super Spanyol 2026, Madrid langsung mengumumkan perpisahan dengan pelatihnya pada Senin (12/1/2026). Dari luar, momen ini kelihatan seperti keputusan yang super cepat dan emosional.
Beberapa laporan menyebut perpisahan itu terjadi lewat kesepakatan bersama. Tapi ada juga sumber yang menyebut Alonso memilih mundur sendiri setelah gagal mempersembahkan trofi. Kekalahan di laga final jelas jadi pemicu utama, apalagi tekanan di klub sekelas Madrid nggak pernah kecil.
Namun, di balik semua itu, muncul satu topik yang bikin perdebatan makin panas: keberadaan Kylian Mbappe.
Mbappe dan Pelatih yang Datang Silih Berganti
Nama Mbappe ikut terseret karena ia kembali menyaksikan satu pelatih pergi tak lama setelah ia bergabung. Bahkan, ada yang mulai bercanda soal “kutukan Mbappe”, karena di hampir setiap klub yang ia bela, pelatihnya jarang bertahan lama.
Di PSG, tren ini sudah terlihat sejak awal. Unai Emery hanya bertahan sekitar satu musim penuh setelah Mbappe mulai jadi andalan. Lalu datang Thomas Tuchel, yang meski membawa banyak gelar dan hampir juara Liga Champions, tetap hanya menemani Mbappe sekitar dua setengah tahun.
Setelah itu, Mauricio Pochettino bertahan kurang lebih 18 bulan sebelum angkat kaki. Penggantinya, Christophe Galtier, juga cuma bertahan semusim. Artinya, dalam beberapa tahun di Paris, Mbappe sudah melihat beberapa pergantian pelatih tanpa henti.
Pindah ke Madrid, Ceritanya Masih Sama
Saat Mbappe pindah ke Real Madrid, banyak yang berharap ceritanya bakal beda. Tapi faktanya, dalam waktu sekitar enam bulan, ia sudah melihat dua pelatih pergi. Pertama Carlo Ancelotti, yang melatihnya di musim 2024/2025 sebelum menerima tawaran melatih tim nasional. Lalu kini Xabi Alonso, yang baru sekitar tujuh bulan duduk di kursi panas Santiago Bernabeu.
Jika ditarik garis besar sejak awal karier profesionalnya, Mbappe sudah menyaksikan enam pelatih datang dan pergi dalam kurun waktu sekitar delapan tahun. Rata-ratanya, ia punya pelatih baru setiap 1,4 tahun. Angka ini tentu bikin banyak orang mengernyitkan dahi.
Kutukan atau Tekanan Klub Besar?
Meski terdengar dramatis, banyak yang menilai ini lebih ke soal lingkungan klub besar yang memang kejam terhadap pelatih. PSG dan Real Madrid sama-sama dikenal tidak sabar jika target tidak tercapai, apalagi di level kompetisi elite.
Mbappe sendiri bukan penyebab langsung dari pemecatan atau pengunduran diri pelatih. Namun, sebagai bintang utama, ekspektasi terhadap tim otomatis makin tinggi. Ketika hasil tak sesuai harapan, sorotan bukan cuma ke pelatih, tapi juga ke cara tim dibangun di sekitar pemain bintang.
Dalam kasus Alonso, kekalahan di final Piala Super dan posisi tertinggal dari Barcelona di LaLiga jelas jadi faktor besar. Ditambah isu ruang ganti dan tekanan publik, situasinya makin sulit dipertahankan.
Sekadar Kebetulan, Tapi Polanya Terlalu Mirip
Mau disebut kutukan atau tidak, polanya memang menarik untuk diperhatikan. Di mana Mbappe berada, perubahan pelatih seperti jadi cerita yang terus berulang. Tapi tetap saja, keputusan akhir selalu ada di tangan manajemen klub, bukan di kaki sang striker.
Yang jelas, Mbappe kini kembali harus beradaptasi dengan pelatih baru di Madrid. Sementara publik sepakbola masih terus bertanya-tanya, apakah ini cuma kebetulan yang aneh, atau memang ada tekanan ekstra ketika sebuah tim dibangun di sekitar satu megabintang.


