Arenabetting – Datang ke Real Madrid di usia yang masih sangat muda jelas bukan perkara gampang. Itulah yang sedang dirasakan Franco Mastantuono. Gelandang serang asal Argentina ini mengakui performanya belum berada di level terbaik, tapi ia juga menegaskan bahwa cap “rekrutan gagal” terlalu berlebihan untuk disematkan kepadanya.
Menit Bermain Masih Terbatas, Adaptasi Jadi Tantangan
Mastantuono direkrut dari River Plate pada bursa transfer musim panas lalu dengan ekspektasi besar. Namun, sejauh ini ia baru mengumpulkan sekitar 973 menit bermain dari 20 laga di semua kompetisi. Kalau dirata-rata, ia hanya tampil kurang dari satu babak per pertandingan.
Dalam periode tersebut, kontribusinya tercatat tiga gol dan satu assist. Angka itu memang belum bisa dibilang meledak, apalagi untuk ukuran pemain yang bermain di klub sebesar Real Madrid. Tapi perlu diingat, ini adalah musim pertamanya di Eropa, dengan tuntutan taktik dan tekanan yang jauh lebih besar dibanding kompetisi sebelumnya.
Untungnya, ia baru saja mengakhiri puasa gol yang cukup panjang dengan mencetak gol ke gawang AS Monaco saat Madrid menang besar 6-1. Gol itu setidaknya memberi sedikit napas lega setelah 11 laga tanpa mencatatkan namanya di papan skor.
Tak Setuju Dicap Rekrutan Terburuk
Mastantuono paham betul bahwa statistiknya belum memuaskan. Ia juga tidak menutup mata bahwa banyak hal belum berjalan sesuai harapan. Namun, ia merasa sudah mendapat cukup banyak kesempatan untuk ukuran pemain 18 tahun yang baru bergabung dengan klub sebesar Madrid.
Ia menilai musim masih panjang dan fase terpenting justru ada di paruh kedua kompetisi. Karena itu, menurutnya masih terlalu cepat untuk menilai apakah ia sukses atau gagal di musim debutnya.
Soal kritik, Mastantuono mengaku bisa menerimanya selama masih dalam batas wajar. Tapi ia juga menyadari ada komentar yang bernada menjatuhkan, bahkan menyebutnya sebagai kesalahan besar dalam kebijakan transfer Madrid. Di titik itu, ia merasa perlu meluruskan pandangan publik.
Bukan Messi, Tapi Juga Bukan Bencana
Menariknya, Mastantuono sempat menyebut nama Lionel Messi saat menanggapi perbandingan yang muncul di media dan kalangan fans. Ia sadar dirinya bukan pemain sekelas Messi, dan tidak pernah mengklaim berada di level tersebut.
Namun, ia juga menegaskan bahwa dirinya bukan rekrutan terburuk yang pernah didatangkan Real Madrid. Menurutnya, proses berkembang butuh waktu, apalagi di klub dengan standar setinggi Los Blancos.
Dengan usia yang masih sangat muda, Mastantuono masih punya ruang besar untuk berkembang. Tinggal bagaimana ia memanfaatkan sisa musim ini untuk membuktikan bahwa kritik yang datang bisa dijawab lewat performa di lapangan, bukan sekadar janji.
Bagi Madrid, kesabaran mungkin jadi kunci. Karena di balik performa yang belum konsisten, potensi besar Mastantuono masih jelas terlihat dan bisa jadi investasi penting untuk masa depan.


