Arenabetting – Perjalanan Juventus di panggung Eropa mendadak terasa berat setelah hasil pahit di Turki. Bertandang ke markas Galatasaray, Bianconeri harus menelan kekalahan telak yang menyisakan banyak pekerjaan rumah. Hasil ini membuat Juventus disebut mengalami kemunduran signifikan, terutama dari sisi karakter permainan.
Laga tersebut berlangsung di Ali Sami Yen Spor Kompleksi pada Rabu (18/2/2026) dini hari WIB, dalam lanjutan babak playoff Liga Champions. Juventus dipaksa menyerah dengan skor mencolok 2-5, sebuah hasil yang sulit diterima untuk tim sebesar Si Nyonya Tua.
Galatasaray Mengamuk di Depan Publik Sendiri
Sejak menit awal, Galatasaray tampil agresif dan penuh percaya diri. Serangan demi serangan membuat pertahanan Juventus kewalahan. Gol-gol tuan rumah lahir dari kaki Gabriel Sara, dua gol Noa Lang, Davinson Sanchez, dan Sacha Boey. Tekanan tanpa henti membuat lini belakang Juventus tampak rapuh dan kehilangan organisasi.
Juventus sendiri sempat memberi perlawanan lewat dua gol dari Teun Koopmeiners. Namun, upaya tersebut tak cukup untuk membendung gelombang serangan Galatasaray yang tampil efektif dan klinis sepanjang laga.
Kekalahan Terbesar Era Spalletti
Hasil ini menjadi catatan buruk bagi pelatih Juventus, Luciano Spalletti. Sejak menangani Bianconeri, ini merupakan kekalahan terbesar yang ia alami. Untuk pertama kalinya pula, Juventus kebobolan lima gol dalam satu pertandingan di bawah asuhan Spalletti.
Situasi ini tentu mengejutkan banyak pihak, mengingat Juventus sebelumnya dikenal cukup solid di lini belakang. Namun, apa yang terjadi di Istanbul menunjukkan sisi lain yang mengkhawatirkan dari performa mereka.
Spalletti Akui Karakter Tim Menurun
Usai pertandingan, Spalletti secara terbuka mengakui bahwa timnya tampil jauh di bawah standar. Ia menilai Juventus gagal membaca tingkat kesulitan laga dan tidak siap menghadapi bahaya yang muncul sepanjang pertandingan. Menurutnya, karakter permainan yang selama ini dibangun justru menghilang di laga tersebut.
Spalletti juga menyoroti penurunan kualitas permainan sebagai faktor utama. Ia menilai, ketika performa tim turun, risiko di lini pertahanan akan semakin besar. Karena itu, evaluasi menyeluruh disebut akan dilakukan sebelum menghadapi leg kedua.
Tantangan Berat Menanti di Leg Kedua
Kekalahan ini membuat jalan Juventus menuju babak 16 besar Liga Champions semakin terjal. Pada leg kedua playoff, Bianconeri dituntut menang dengan selisih empat gol tanpa balas untuk bisa lolos langsung. Misi tersebut jelas bukan perkara mudah, apalagi jika melihat performa mereka di leg pertama.
Namun, Juventus masih punya waktu untuk berbenah. Spalletti dan timnya harus segera menemukan kembali identitas permainan yang hilang. Jika tidak, mimpi melangkah jauh di Liga Champions musim ini bisa berakhir lebih cepat dari yang diharapkan.


