Arenabetting – Kisah menarik datang dari perjalanan karier Cristiano Ronaldo bersama Al Nassr. Megabintang asal Portugal itu disebut sempat mencoba menjalani puasa Ramadan saat bermain di Arab Saudi. Cerita ini diungkap oleh mantan rekan setimnya, Shaye Sharahili, dalam sebuah podcast olahraga.
Ronaldo yang bergabung dengan Al Nassr sejak 2022 memang dikenal sebagai sosok profesional dan disiplin. Namun siapa sangka, ia juga menunjukkan rasa ingin tahu besar terhadap budaya lokal, termasuk soal ibadah puasa.
Dua Hari Menahan Lapar dan Haus
Dalam obrolan di podcast tersebut, Sharahili menceritakan bahwa Ronaldo sempat mencoba berpuasa selama dua hari pada Ramadan tahun lalu. Ia melakukan itu untuk merasakan langsung bagaimana pengalaman para pemain Muslim yang tetap berlatih dan bertanding sambil menahan lapar dan haus.
Langkah itu disebut bukan karena kewajiban, melainkan murni rasa penasaran. Ronaldo ingin memahami seperti apa tantangan fisik dan mental yang dijalani rekan-rekannya selama bulan suci.
Bagi pemain dengan standar kebugaran setinggi Ronaldo, keputusan itu tentu menarik perhatian. Ia dikenal sangat detail dalam menjaga pola makan dan program latihan. Namun demi memahami budaya sekitar, ia rela keluar dari rutinitas biasanya.
Adaptasi di Bulan Ramadan
Di kompetisi Saudi Pro League, Ramadan bukan hal asing. Banyak pemain lokal sudah terbiasa tetap tampil maksimal meski berpuasa. Bahkan, menurut cerita yang beredar, puasa tidak dianggap sebagai hambatan besar bagi mereka.
Sebaliknya, para pemain asing justru harus beradaptasi dengan perubahan jadwal latihan dan pertandingan yang menyesuaikan waktu berbuka. Situasi ini menciptakan dinamika unik di ruang ganti.
Ronaldo disebut ingin benar-benar memahami konteks tersebut. Ia tak sekadar menjadi bintang lapangan, tetapi juga mencoba menghargai lingkungan sosial dan budaya tempatnya bermain.
Profesionalisme dan Rasa Hormat
Kisah ini menambah daftar panjang sikap profesional Ronaldo sepanjang kariernya. Ia bukan hanya fokus pada performa, tetapi juga menunjukkan respek terhadap budaya lokal. Meski hanya dua hari, pengalaman itu diyakini memberinya perspektif baru tentang dedikasi para pemain Muslim selama Ramadan.
Bagi banyak penggemar, cerita ini memperlihatkan sisi lain dari peraih lima Ballon d’Or tersebut. Ia tak hanya kompetitif dan ambisius, tetapi juga terbuka terhadap pengalaman baru.
Lebih dari Sekadar Sepak Bola
Langkah Ronaldo mencoba puasa bisa dilihat sebagai bentuk empati dan adaptasi. Bermain di luar Eropa, khususnya di Timur Tengah, memang menuntut pemahaman budaya yang lebih luas.
Di usia yang sudah matang, Ronaldo tetap menunjukkan rasa ingin belajar. Hal ini menjadi bukti bahwa karier internasional bukan hanya soal trofi dan gol, tapi juga tentang menghargai tempat dan orang-orang di sekitar.


