Arenabetting – Manchester United musim ini seperti punya kebiasaan unik: baru benar-benar “hidup” saat pertandingan masuk 20 menit terakhir. Ketika laga terlihat buntu atau bahkan hampir lepas, Setan Merah justru menemukan cara untuk bangkit. Statistiknya pun bicara keras.
Di ajang Premier League 2025/2026 sejauh ini, MU sudah mencetak delapan gol krusial pada menit ke-70 ke atas. Lebih gilanya lagi, empat di antaranya lahir saat injury time. Jika momen-momen itu tak terjadi, MU disebut bisa kehilangan hingga 13 poin di klasemen. Sebuah angka yang jelas mengubah wajah musim mereka.
Lima Gol Penentu Kemenangan
Ada lima gol telat yang langsung mengunci tiga poin penuh. Tanpa gol-gol ini, MU minimal hanya akan membawa pulang hasil imbang.
Gol pertama datang dari Bruno Fernandes pada menit 90+7 saat melawan Burnley, memastikan kemenangan 3-2. Lalu Harry Maguire mencetak gol menit ke-84 ke gawang Liverpool untuk menang 2-1.
Tak berhenti di situ, Matheus Cunha membobol gawang Arsenal di menit 87 dan membawa MU menang 3-2. Sementara Benjamin Sesko mencetak dua gol penting: menit 90+4 melawan Fulham (3-2) dan menit 71 kontra Everton (1-0).
Jika dihitung, lima laga tersebut masing-masing memberi tambahan dua poin dibanding hasil imbang. Totalnya 10 poin berhasil “diamankan” berkat mental baja di menit akhir.
Tiga Gol Penyelamat dari Kekalahan
Selain gol kemenangan, ada juga tiga momen dramatis yang menyelamatkan MU dari kekalahan.
Amad Diallo mencetak gol menit ke-81 saat menghadapi Nottingham Forest untuk memaksakan skor 2-2. Kemudian Matthijs de Ligt mencetak gol menit 90+6 melawan Tottenham yang juga berakhir imbang 2-2.
Yang terbaru, Šeško kembali muncul sebagai penyelamat lewat gol menit 90+6 ke gawang West Ham, membuat laga berakhir 1-1. Tiga gol tersebut masing-masing menyelamatkan satu poin, total tiga poin tambahan yang sangat berharga.
Benjamin Šeško, Si Raja Late Goal
Nama Šeško pantas dapat sorotan khusus. Dari delapan gol telat MU, tiga di antaranya lahir dari kakinya. Perlahan tapi pasti, ia mulai mendapat label sebagai “super sub” baru Old Trafford.
Ketajamannya di momen genting memberi warna berbeda bagi lini serang MU. Ia bukan hanya mencetak gol, tapi mencetak gol di waktu yang paling menentukan. Dalam persaingan papan atas yang super ketat, detail kecil seperti ini bisa jadi pembeda antara finis empat besar atau terpeleset.
Musim ini membuktikan satu hal: MU mungkin belum selalu dominan sejak menit awal, tapi mereka punya karakter. Dan di Premier League, mentalitas untuk bertarung sampai detik terakhir sering kali lebih berharga daripada sekadar penguasaan bola.


