Mainbolaonline.org – Manchester City kembali harus mengubur mimpi di Liga Champions setelah disingkirkan Real Madrid di babak 16 besar. Kekalahan ini terasa semakin pahit karena terjadi untuk kesekian kalinya.
Bermain di Etihad Stadium, City kalah 1-2 pada leg kedua dan tersingkir dengan agregat telak 1-5. Hasil ini menunjukkan dominasi Madrid atas tim asuhan Pep Guardiola.
Kekalahan tersebut sekaligus memperpanjang tren buruk City saat menghadapi Real Madrid di kompetisi ini. Situasi ini pun mulai dianggap sebagai “kutukan” tersendiri.
Bagi Guardiola, hasil ini menjadi pengingat bahwa Madrid masih menjadi lawan yang sangat sulit ditaklukkan di Liga Champions.
Madrid Jadi Momok bagi Guardiola
Pep Guardiola disebut kembali gagal melewati hadangan Real Madrid di Liga Champions. Ini bukan pertama kalinya hal tersebut terjadi.
Madrid bahkan disebut sebagai “kryptonite” bagi Guardiola. Ia sudah tujuh kali kalah dari klub asal Spanyol tersebut di kompetisi ini.
Catatan ini menjadi yang terbanyak dibandingkan lawan lainnya sepanjang karier kepelatihannya. Hal ini menunjukkan betapa sulitnya menghadapi Madrid.
Situasi ini juga memperkuat anggapan bahwa Madrid memiliki mentalitas khusus di Liga Champions yang sulit ditandingi.
Bagi Guardiola, rekor ini tentu menjadi tantangan besar yang belum terpecahkan hingga kini.
Tersingkir Tiga Musim Beruntun
Kekalahan musim ini menandai kali ketiga secara beruntun Manchester City disingkirkan oleh Real Madrid. Tren ini semakin mempertegas dominasi Los Blancos.
Musim lalu, kedua tim bertemu di babak playoff fase knockout. Sementara dua musim sebelumnya, mereka berhadapan di perempatfinal.
Hasilnya selalu sama, City harus mengakui keunggulan Madrid. Hal ini membuat rivalitas kedua tim semakin panas.
Pertemuan yang intens dalam beberapa musim terakhir juga menunjukkan bahwa kedua tim sering menjadi kandidat kuat di kompetisi ini.
Namun, dalam duel langsung, Madrid masih lebih unggul dibandingkan City.
Rekor Buruk Guardiola Lawan Madrid
Sepanjang kariernya, Guardiola sudah lima kali tersingkir oleh Real Madrid di fase knockout Liga Champions. Empat di antaranya terjadi saat melatih Manchester City.
Satu kekalahan lainnya terjadi saat ia masih menangani Bayern Munich. Saat itu, Bayern kalah telak 0-5 secara agregat di semifinal musim 2013/2014.
Rekor ini menunjukkan bahwa Madrid menjadi salah satu lawan tersulit dalam perjalanan karier Guardiola.
Meski dikenal sebagai pelatih dengan taktik brilian, Guardiola belum menemukan cara konsisten untuk mengatasi Madrid.
Hal ini membuat setiap pertemuan keduanya selalu menjadi sorotan besar.
Dominasi Madrid di Liga Champions
Real Madrid kembali menunjukkan statusnya sebagai raja Liga Champions. Mereka mampu tampil solid dan efektif saat menghadapi Manchester City.
Kemenangan agregat 5-1 menjadi bukti bahwa Madrid tidak hanya menang, tetapi juga mendominasi secara keseluruhan.
Mental juara yang dimiliki Madrid terlihat jelas dalam pertandingan ini. Mereka mampu memanfaatkan peluang dan menjaga keunggulan dengan baik.
City sebenarnya memiliki kualitas untuk bersaing, tetapi Madrid selalu menemukan cara untuk keluar sebagai pemenang.
Dengan hasil ini, Madrid kembali melangkah ke babak berikutnya, sementara City harus kembali melakukan evaluasi untuk musim depan.


