Arenabetting Situs Judi Bola Sbobet Terpercaya

betarena

Claudio Ranieri Siap Latih Italia, Azzurri Cari Jalan Keluar dari Masa Sulit

Arenabetting – Timnas Italia kembali berada dalam situasi yang tidak nyaman setelah kursi pelatih utama kosong. Kondisi itu muncul usai Gennaro Gattuso memilih mundur menyusul kegagalan Italia lolos ke Piala Dunia 2026. Kegagalan tersebut membuat luka lama Azzurri kembali terbuka. Untuk ketiga kalinya secara beruntun, Italia gagal tampil di ajang sepak bola terbesar dunia. Di tengah situasi penuh tekanan itu, nama Claudio Ranieri tiba-tiba kembali muncul ke permukaan. Pelatih senior berusia 74 tahun tersebut kini membuka peluang untuk bergabung dengan Timnas Italia. Padahal sebelumnya Ranieri sempat menolak tawaran dari federasi sepak bola Italia. Saat itu, ia memilih tetap fokus dengan pekerjaannya bersama AS Roma. Ranieri Kini Mulai Membuka Pintu Claudio Ranieri mengaku situasinya sekarang sudah berbeda dibanding beberapa waktu lalu. Karena sudah tidak terikat pekerjaan lain, ia merasa lebih leluasa menerima tawaran baru. Mantan pelatih Leicester City tersebut menegaskan dirinya tidak ingin buru-buru menutup kemungkinan melatih Timnas Italia. Jika memang ada panggilan resmi, ia siap mempertimbangkannya dengan serius. Ranieri juga merasa kesempatan bekerja untuk negara adalah sesuatu yang spesial. Karena itu, ia tidak ingin menolak begitu saja apabila federasi benar-benar membutuhkannya. Pernyataan itu langsung membuat publik Italia kembali ramai membahas peluang sang pelatih veteran menangani Azzurri. Banyak fans merasa pengalaman Ranieri bisa membantu Italia keluar dari masa sulit. Italia Masih Cari Sosok yang Tepat Federasi sepak bola Italia memang masih sibuk mencari sosok ideal untuk membangun ulang tim nasional. Nama Antonio Conte sempat menjadi kandidat terkuat dalam beberapa pekan terakhir. Namun hingga sekarang belum ada keputusan pasti soal siapa yang akan mengisi kursi pelatih. Situasi itu membuat beberapa nama lain mulai masuk dalam pembicaraan publik. Ranieri dianggap punya pengalaman panjang di sepak bola Italia maupun Eropa. Meski usianya sudah tidak muda, kemampuannya membangun atmosfer tim tetap mendapat banyak pujian. Azzurri sendiri memang membutuhkan sosok yang bisa mengangkat mental pemain. Setelah gagal lolos ke tiga edisi Piala Dunia beruntun, tekanan terhadap tim nasional Italia terasa semakin besar. Ranieri Siap Ambil Peran Apa Pun Menariknya, Ranieri tidak hanya membuka peluang sebagai pelatih kepala. Ia juga mengaku siap membantu Timnas Italia dalam posisi lain seperti direktur tim. Menurutnya, membantu negara jauh lebih penting dibanding memikirkan jabatan tertentu. Karena itu, ia bersedia mengambil peran apa pun jika memang dibutuhkan. Sikap tersebut memperlihatkan kecintaan besar Ranieri terhadap sepak bola Italia. Meski sebelumnya sudah beberapa kali menyatakan pensiun, semangatnya ternyata belum benar-benar hilang. Mantan juru taktik Leicester City itu memang dikenal sebagai figur yang dekat dengan pemain. Pengalamannya menghadapi berbagai situasi sulit menjadi salah satu alasan namanya kembali diperhitungkan. Misi Berat Kembalikan Azzurri ke Jalur Juara Siapa pun pelatih berikutnya nanti, tugas yang menunggu jelas tidak mudah. Italia harus segera bangkit setelah periode buruk yang cukup panjang dalam sepak bola internasional. Azzurri sebenarnya masih memiliki banyak pemain berkualitas. Namun performa tim dalam beberapa tahun terakhir terlihat kurang stabil dan kehilangan identitas permainan. Karena itulah pengalaman pelatih senior seperti Ranieri mulai dianggap penting. Ia dinilai mampu membawa ketenangan sekaligus memperbaiki mental skuad Italia yang sedang terpuruk. Kini publik tinggal menunggu langkah federasi. Jika Claudio Ranieri benar-benar kembali dari masa pensiun untuk menangani Azzurri, cerita menarik lain tampaknya siap hadir dalam perjalanan sepak bola Italia.

Claudio Ranieri Siap Latih Italia, Azzurri Cari Jalan Keluar dari Masa Sulit Read More »

James Rodriguez Bantah Isu Pensiun, Masih Mau Main Beberapa Tahun Lagi

Arenabetting – James Rodriguez kembali jadi bahan perbincangan jelang Piala Dunia 2026. Gelandang senior Timnas Kolombia itu ramai dikabarkan bakal mengakhiri karier setelah turnamen terbesar dunia tersebut selesai digelar. Rumor itu muncul karena kontrak James bersama Minnesota dikabarkan habis pada Juni 2026. Banyak yang mulai menduga sang playmaker akan memilih pensiun setelah perjalanan panjang kariernya di sepak bola. Namun kabar tersebut ternyata langsung dibantah oleh James Rodriguez sendiri. Mantan bintang Real Madrid itu memastikan dirinya masih belum punya rencana gantung sepatu dalam waktu dekat. Pemain berusia 34 tahun tersebut malah merasa masih sanggup bermain di level kompetitif selama beberapa tahun ke depan. Fokus utamanya kini hanya tertuju pada Piala Dunia bersama Timnas Kolombia. James Masih Belum Mau Berhenti James Rodriguez terlihat cukup santai menanggapi rumor soal pensiun. Ia merasa kabar tersebut muncul tanpa sumber yang jelas dan hanya dibuat untuk menarik perhatian publik. Menurutnya, keputusan pensiun adalah hal pribadi yang hanya diketahui oleh dirinya sendiri. Karena itu, James merasa isu tersebut terlalu dibesar-besarkan oleh media dan media sosial. Mantan pemain Bayern Munchen itu juga menegaskan kondisi fisiknya masih cukup bagus. Ia merasa masih mampu bersaing dan menikmati sepak bola profesional dalam beberapa musim ke depan. Pernyataan tersebut tentu membuat fans Kolombia sedikit lega. Banyak pendukung Los Cafeteros masih berharap James bisa terus menjadi sosok penting di tim nasional. Karier James Penuh Perjalanan Panjang Selepas meninggalkan Real Madrid pada 2017, perjalanan karier James Rodriguez memang penuh warna. Ia sempat tampil cukup baik bersama Bayern Munchen sebelum mulai berpindah-pindah klub. James kemudian mencoba tantangan baru bersama Everton di Premier League. Setelah itu, kariernya terus berlanjut ke berbagai negara dan kompetisi berbeda. Pemain kreatif Kolombia tersebut sempat bermain di Yunani bersama Olympiacos, lalu pindah ke Qatar memperkuat Al Rayyan. Setelah itu ia juga mencicipi kompetisi Brasil bersama Sao Paulo. Petualangan James belum berhenti sampai di sana. Ia sempat kembali ke La Liga bersama Rayo Vallecano sebelum melanjutkan karier ke Meksiko dan akhirnya bermain di MLS bersama Minnesota. Fokus Besar Menuju Piala Dunia 2026 Saat ini James Rodriguez memilih fokus penuh untuk persiapan Piala Dunia 2026. Turnamen tersebut terasa sangat penting karena mungkin menjadi kesempatan terakhirnya tampil di ajang terbesar sepak bola dunia. Kolombia sendiri tergabung di Grup K bersama Portugal, Uzbekistan, dan DR Congo. Grup itu dianggap cukup menarik karena mempertemukan beberapa gaya permainan berbeda. James diyakini masih akan menjadi salah satu pemimpin utama Los Cafeteros. Pengalaman dan visi bermainnya tetap sangat dibutuhkan di tengah banyaknya pemain muda Kolombia saat ini. Mantan pemain Real Madrid itu tampak sangat antusias menyambut turnamen tersebut. Ia ingin membantu Kolombia melangkah sejauh mungkin di Piala Dunia nanti. Masa Depan Masih Terbuka Selepas Piala Dunia 2026, James Rodriguez kabarnya baru akan mulai memikirkan langkah berikutnya dalam karier. Ia masih membuka peluang bertahan di MLS atau mencari tantangan baru. Meski sudah tidak bermain di level elite Eropa, kualitas James tetap mendapat perhatian banyak fans sepak bola. Teknik, visi umpan, dan kreativitasnya masih menjadi ciri khas yang sulit hilang. Peraih Puskas Award 2014 itu juga merasa motivasinya bermain sepak bola belum habis. Karena itulah isu pensiun dianggap terlalu cepat untuk dibicarakan saat ini. Kini James hanya ingin menikmati setiap momen bersama Kolombia. Soal pensiun, sang playmaker tampaknya masih belum ingin buru-buru mengambil keputusan besar tersebut.

James Rodriguez Bantah Isu Pensiun, Masih Mau Main Beberapa Tahun Lagi Read More »

Mbappe Mulai Lelah di Real Madrid, Terus Jadi Sasaran Kritik Musim Ini

Arenabetting – Situasi Kylian Mbappe di Real Madrid mulai ramai jadi sorotan. Penyerang asal Prancis itu kabarnya merasa lelah karena terus dijadikan kambing hitam atas kegagalan Los Blancos musim ini. Sudah dua musim Mbappe berseragam Real Madrid sejak datang pada 2024. Namun hingga kini, ia masih belum mampu mempersembahkan gelar La Liga maupun Liga Champions untuk klub raksasa Spanyol tersebut. Padahal secara individu performa Mbappe sebenarnya tetap tajam. Musim lalu ia sukses meraih sepatu emas Eropa sekaligus menjadi top skor La Liga, sementara musim ini namanya kembali bersaing di daftar pencetak gol terbanyak. Meski begitu, kegagalan Madrid meraih trofi besar membuat tekanan kepada Mbappe semakin besar. Banyak pihak mulai menilai kehadiran sang superstar justru belum membawa perubahan signifikan untuk Los Blancos. Mbappe Jadi Sasaran Kritik Fans Madrid Menurut beberapa laporan, suasana di sekitar Mbappe mulai terasa tidak nyaman dalam beberapa bulan terakhir. Fans Real Madrid disebut mulai kehilangan kesabaran setelah klub kembali menutup musim tanpa gelar utama. Aksi Mbappe yang sempat berlibur di tengah proses pemulihan cedera juga memunculkan kritik baru. Sebagian pendukung Los Blancos merasa momen tersebut kurang tepat mengingat situasi tim sedang buruk. Bukan cuma dari luar lapangan, hubungan Mbappe dengan ruang ganti juga sempat dirumorkan tidak sepenuhnya harmonis. Situasi itu membuat tekanan terhadap sang striker semakin besar. Walau begitu, banyak pihak merasa kritik kepada Mbappe terlalu berlebihan. Sebab secara statistik, performa individu pemain Prancis tersebut masih termasuk salah satu yang terbaik di Eropa. Hubungan dengan Xabi Alonso Ikut Disorot Sebelumnya sempat muncul rumor soal hubungan Mbappe dengan pelatih Xabi Alonso yang kurang berjalan baik. Spekulasi itu makin liar setelah Alonso akhirnya harus meninggalkan kursi pelatih Real Madrid. Meski belum ada konfirmasi resmi, banyak media Spanyol mulai mengaitkan suasana ruang ganti dengan hasil buruk tim musim ini. Mbappe pun kembali menjadi nama yang paling sering disorot. Situasi tersebut membuat mantan pemain Paris Saint-Germain itu berada dalam tekanan luar biasa. Semua perhatian publik seperti terus mengarah kepadanya setiap kali Madrid gagal meraih hasil positif. Padahal masalah Real Madrid musim ini dinilai jauh lebih kompleks. Inkonsistensi permainan, cedera pemain, hingga situasi internal klub ikut menjadi faktor penting kegagalan Los Blancos. Mbappe Pilih Fokus Pulih Kabarnya, Mbappe tidak akan tampil dalam tiga laga tersisa Real Madrid di La Liga musim ini. Sang pemain ingin fokus memulihkan kondisi fisiknya agar siap tampil maksimal di Piala Dunia 2026. Keputusan itu juga diyakini berkaitan dengan situasi mental Mbappe yang sedang cukup lelah. Setelah terus menjadi sasaran kritik, ia memilih menjauh sejenak dari tekanan besar di Madrid. Bernabeu sendiri diperkirakan tetap panas dalam dua laga kandang terakhir musim ini. Fans Los Blancos diyakini akan meluapkan kekecewaan setelah tim gagal meraih trofi selama dua musim beruntun. Karena itulah Mbappe dianggap lebih memilih menghindari situasi yang bisa memperburuk atmosfer di sekitar dirinya maupun klub. Mbappe Ingin Buka Lembaran Baru Meski musim ini terasa berat, Mbappe belum kehilangan ambisi besar bersama Real Madrid. Ia masih ingin membuktikan diri bisa membawa Los Blancos kembali berjaya musim depan. Striker Timnas Prancis tersebut diyakini ingin memulai segalanya dari awal setelah melewati periode penuh tekanan. Fokus utamanya kini adalah kembali bugar dan menemukan ketenangan mental. Dengan kualitas yang dimilikinya, banyak pihak percaya Mbappe masih bisa menjadi pusat proyek besar Real Madrid. Namun ia jelas membutuhkan dukungan yang lebih stabil dari klub maupun lingkungan sekitarnya. Kini perhatian Mbappe sepenuhnya tertuju pada pemulihan cedera dan Piala Dunia 2026. Setelah itu, sang bintang tampaknya siap mencoba membuka cerita baru bersama Los Blancos di musim berikutnya.

Mbappe Mulai Lelah di Real Madrid, Terus Jadi Sasaran Kritik Musim Ini Read More »

Chelsea Fokus Cari Manajer Baru, Xabi Alonso Jadi Kandidat Terdepan

Arenabetting – Chelsea mulai serius bergerak mencari manajer anyar untuk musim depan. Setelah menjalani musim yang kembali penuh tekanan, The Blues ingin segera menemukan sosok yang tepat untuk membangun tim lebih stabil. Beberapa nama sempat muncul dalam daftar incaran klub asal London tersebut. Mulai dari Xavi Hernandez hingga Cesc Fabregas pernah dikaitkan dengan kursi panas di Stamford Bridge. Namun belakangan, bursa calon pelatih Chelsea mulai mengerucut. Kini hanya tersisa tiga nama yang benar-benar masuk pertimbangan utama manajemen klub. Dari ketiga kandidat tersebut, nama Xabi Alonso kabarnya menjadi favorit terkuat. Mantan gelandang Real Madrid itu dinilai cocok menangani proyek jangka panjang Chelsea yang dipenuhi pemain muda. Xabi Alonso Jadi Favorit Utama Petinggi Chelsea diyakini sangat tertarik dengan gaya kepelatihan Xabi Alonso. Meski kariernya sebagai pelatih masih tergolong muda, Alonso dianggap punya visi permainan modern yang jelas. Sebelumnya Alonso sempat menangani Real Madrid, tetapi harus berpisah pada awal tahun 2026. Meski begitu, reputasinya sebagai pelatih muda potensial tetap mendapat perhatian banyak klub besar Eropa. Chelsea melihat Alonso sebagai sosok yang mampu membangun identitas permainan baru untuk The Blues. Kemampuannya mengembangkan pemain muda menjadi salah satu nilai plus terbesar. Hal itu terasa cocok dengan kondisi skuad Chelsea saat ini. Klub asal London tersebut memang dipenuhi pemain muda berbakat yang masih membutuhkan arahan dan kestabilan taktik. Iraola dan Marco Silva Masih Dipertimbangkan Selain Xabi Alonso, Chelsea juga memasukkan nama Andoni Iraola dan Marco Silva dalam daftar kandidat utama. Kedua pelatih tersebut dianggap punya pengalaman bagus di Premier League. Andoni Iraola tampil cukup menarik bersama Bournemouth dalam beberapa musim terakhir. Gaya bermain agresif dan intens miliknya membuat banyak klub mulai melirik pelatih asal Spanyol itu. Kontrak Iraola bersama Bournemouth juga akan habis pada akhir musim ini. Situasi tersebut membuat Chelsea bisa bergerak tanpa perlu membayar biaya kompensasi besar. Sementara itu, Marco Silva juga masih mendapat kepercayaan tinggi di Fulham. Pelatih asal Portugal tersebut berhasil membawa timnya tampil cukup stabil menghadapi persaingan Premier League. Chelsea Mulai Lakukan Kontak Kabarnya, pihak Chelsea sudah mulai melakukan komunikasi dengan ketiga kandidat tersebut. Namun hingga sekarang belum ada keputusan resmi dari salah satu nama yang diincar. Fulham sendiri masih berharap Marco Silva bersedia memperpanjang kontraknya. Klub asal London itu masih ingin mempertahankan pelatih yang dianggap sukses menjaga stabilitas tim. Di sisi lain, Iraola juga mulai diminati beberapa klub lain karena performanya bersama Bournemouth. Situasi itu membuat Chelsea harus bergerak cepat jika benar-benar serius merekrutnya. Meski begitu, fokus utama The Blues tetap tertuju kepada Xabi Alonso. Manajemen klub diyakini masih menunggu respons dari mantan gelandang Liverpool dan Real Madrid tersebut. The Blues Ingin Bangun Era Baru Chelsea memang sedang berusaha membangun ulang fondasi tim setelah beberapa musim tampil tidak konsisten. Pergantian pelatih yang terlalu sering membuat proyek klub sulit berkembang maksimal. Karena itulah pemilihan manajer baru kali ini dianggap sangat penting. The Blues ingin mencari sosok yang bisa bertahan lama sekaligus membentuk identitas permainan yang jelas. Xabi Alonso dianggap punya potensi besar untuk memimpin era baru di Stamford Bridge. Selain memiliki nama besar, ia juga dikenal dekat dengan filosofi sepak bola modern. Kini publik tinggal menunggu keputusan akhir Chelsea. Apakah The Blues benar-benar berhasil mendapatkan Xabi Alonso, atau justru beralih ke Andoni Iraola maupun Marco Silva untuk memulai proyek baru musim depan.

Chelsea Fokus Cari Manajer Baru, Xabi Alonso Jadi Kandidat Terdepan Read More »

Lamine Yamal Bahagia Barcelona Juara La Liga, Tapi Liga Champions Masih Jadi Beban

Arenabetting – Barcelona kembali menutup musim dengan senyum lebar setelah sukses mempertahankan gelar La Liga 2025/2026. Kepastian juara datang usai Blaugrana mengalahkan Real Madrid 2-0 di El Clasico yang berlangsung panas di Camp Nou. Kemenangan itu membuat Barcelona mengoleksi 91 poin dari 35 pertandingan. Los Blancos yang berada di posisi kedua sudah tidak mungkin lagi mengejar perolehan poin rival abadinya tersebut. Bagi Lamine Yamal, musim ini tentu terasa spesial. Wonderkid Barcelona itu kembali menjadi bagian penting keberhasilan Blaugrana meraih trofi domestik bersama skuad utama. Namun di balik kebahagiaan tersebut, ternyata masih ada rasa yang mengganjal di hati pemain muda berusia 18 tahun itu. Liga Champions masih menjadi mimpi besar yang belum berhasil diwujudkan Barcelona. Barcelona Dominan di Kompetisi Domestik Musim ini Barcelona tampil sangat kuat di kompetisi dalam negeri. Selain sukses mempertahankan La Liga, Blaugrana juga berhasil mengangkat trofi Piala Super Spanyol. Konsistensi permainan tim asuhan Hansi Flick menjadi salah satu kunci utama keberhasilan mereka. Kombinasi pemain muda dan senior membuat Barcelona terlihat lebih stabil sepanjang musim. Lamine Yamal sendiri menjadi salah satu pemain yang paling bersinar. Kecepatan, kreativitas, dan keberaniannya membuat lini serang Blaugrana jauh lebih hidup dalam banyak pertandingan penting. Meski masih sangat muda, Yamal terlihat menikmati tanggung jawab besar di tim utama. Kehadirannya bahkan mulai dianggap sebagai simbol era baru Barcelona setelah generasi lama perlahan pergi. Liga Champions Masih Jadi Luka Lama Walau berhasil berjaya di Spanyol, Barcelona ternyata belum mampu menghapus kekecewaan di Liga Champions. Blaugrana kembali gagal melangkah jauh di kompetisi paling bergengsi Eropa tersebut. Musim ini perjalanan Barca harus berhenti di babak perempatfinal setelah disingkirkan Atletico Madrid. Kekalahan itu terasa menyakitkan karena fans berharap tim bisa kembali bersaing di level tertinggi Eropa. Lamine Yamal juga mengakui bahwa Liga Champions masih menjadi target besar yang belum tercapai. Ia merasa Barcelona harus tetap menghargai trofi domestik, tetapi ambisi di Eropa tetap belum selesai. Sudah lebih dari satu dekade Blaugrana gagal mengangkat trofi Si Kuping Lebar lagi. Terakhir kali Barcelona menjadi juara Liga Champions terjadi pada tahun 2015. Yamal Tetap Bangga dengan Musim Ini Meski ada rasa kecewa di kompetisi Eropa, Yamal tetap merasa musim ini layak dirayakan. Menurutnya, memenangkan trofi tidak pernah menjadi hal mudah bagi klub mana pun. Pemain muda Spanyol itu juga merasa Barcelona perlahan mulai bangkit setelah melewati beberapa musim sulit. Karena itu, ia ingin seluruh tim menikmati keberhasilan yang sudah diraih musim ini. Blaugrana memang terlihat mulai menemukan kembali identitas permainan mereka. Kehadiran pemain muda seperti Yamal membuat masa depan klub terasa lebih menjanjikan. Atmosfer positif di ruang ganti juga menjadi salah satu faktor penting. Para pemain terlihat semakin percaya diri menghadapi tekanan besar dalam perebutan gelar musim ini. Mimpi Besar Barcelona Musim Depan Kini perhatian Barcelona mulai tertuju pada musim depan. Setelah kembali menguasai kompetisi domestik, target berikutnya jelas membawa Blaugrana berbicara lebih banyak di Liga Champions. Lamine Yamal diperkirakan akan menjadi salah satu pusat proyek besar Barcelona ke depan. Di usia yang masih sangat muda, potensinya bahkan dianggap belum mencapai puncak. Fans Blaugrana juga mulai percaya tim mereka perlahan siap kembali menjadi kekuatan besar Eropa. Kombinasi pemain muda berbakat dan pengalaman skuad utama memberi harapan baru di Camp Nou. Pertanyaannya sekarang tinggal satu, mampukah Yamal dan Barcelona akhirnya memutus penantian panjang di Liga Champions musim depan? Para pendukung Blaugrana jelas berharap jawabannya adalah iya.

Lamine Yamal Bahagia Barcelona Juara La Liga, Tapi Liga Champions Masih Jadi Beban Read More »

Peter Schmeichel Semprot VAR Usai Arsenal Menang, Singgung Gol Andalan The Gunners

Arenabetting – Peter Schmeichel melontarkan kritik keras terhadap penggunaan VAR setelah Arsenal menang tipis 1-0 atas West Ham United di pekan ke-36 Premier League. Laga yang digelar di London Stadium itu sebenarnya berlangsung cukup ketat. Arsenal berhasil menjaga keunggulan hingga akhir pertandingan, tapi drama besar muncul jelang peluit panjang berbunyi. West Ham sempat mencetak gol penyeimbang lewat Callum Wilson. Namun gol tersebut akhirnya dianulir setelah pemeriksaan panjang VAR yang langsung memicu kontroversi. VAR Jadi Sorotan Panjang Insiden bermula dari situasi sepak pojok West Ham di menit-menit akhir pertandingan. Bola liar berhasil dimanfaatkan Wilson untuk menjebol gawang Arsenal dan membuat publik stadion sempat bersorak. Namun petugas VAR, Darren England, kemudian memeriksa ulang proses gol tersebut cukup lama. Setelah hampir lima menit pengecekan, wasit Chris Kavanagh akhirnya memutuskan ada pelanggaran terhadap kiper Arsenal, David Raya. Keputusan itulah yang langsung memancing protes besar dari kubu West Ham dan banyak pengamat sepak bola. Schmeichel Nilai VAR Tidak Konsisten Schmeichel menjadi salah satu sosok yang paling keras mengkritik keputusan tersebut. Legenda Manchester United itu menilai gol West Ham seharusnya tetap sah karena kontak di area kotak penalti masih tergolong wajar. Ia bahkan menyindir Arsenal yang musim ini cukup sering mencetak gol dari situasi sepak pojok dengan skema pemain mengganggu pergerakan kiper lawan. Menurut Schmeichel, jika standar seperti itu dipakai secara konsisten, maka banyak gol Arsenal musim ini juga semestinya bisa dianulir. Komentarnya langsung ramai dibahas fans sepak bola di media sosial. Proses VAR Dinilai Terlalu Lama Selain keputusan akhir, Schmeichel juga menyoroti lamanya proses pemeriksaan VAR dalam insiden tersebut. Ia mempertanyakan mengapa Darren England membutuhkan waktu hingga lima menit hanya untuk menentukan satu keputusan. Menurutnya, semakin lama VAR memutar ulang tayangan, justru semakin memperlihatkan bahwa keputusan tersebut sebenarnya tidak benar-benar jelas. Kritik soal durasi pengecekan VAR memang kembali ramai musim ini karena dianggap terlalu sering merusak ritme pertandingan. Arsenal Selangkah Lagi Menuju Gelar Di tengah kontroversi tersebut, Arsenal tetap pulang dengan tiga poin penting. Kemenangan atas West Ham membuat pasukan Mikel Arteta semakin dekat dengan gelar Premier League musim ini. The Gunners kini mengoleksi 79 poin dan unggul lima angka dari Manchester City dengan hanya dua laga tersisa. Meski begitu, drama VAR dalam laga ini dipastikan masih akan terus jadi bahan perdebatan panjang di kalangan fans dan pengamat sepak bola Inggris.

Peter Schmeichel Semprot VAR Usai Arsenal Menang, Singgung Gol Andalan The Gunners Read More »