Arenabetting Situs Judi Bola Sbobet Terpercaya

Berita Bola

Gas di Anfield, Liverpool Libas Barnsley dan Lolos Mulus ke Babak Keempat Piala FA

Arenabetting – Liverpool memulai langkahnya di Piala FA musim ini dengan hasil meyakinkan. Bermain di Anfield pada babak ketiga, Selasa (13/1/2026) dini hari WIB, The Reds sukses menaklukkan klub divisi tiga, Barnsley, dengan skor 4-1. Kemenangan ini mengantar Liverpool melaju ke babak keempat tanpa drama berarti, meski sempat mendapat perlawanan cukup berani dari tim tamu. Empat gol Liverpool dicetak oleh Dominik Szoboszlai, Jeremie Frimpong, Florian Wirtz, dan Hugo Ekitike. Sementara itu, satu-satunya gol balasan Barnsley lahir dari kaki Adam Phillips. Barnsley Berani Menyerang, Liverpool Efektif Meski berstatus tim tamu dan berasal dari kasta lebih rendah, Barnsley tidak datang ke Anfield hanya untuk bertahan. Di lima menit awal, mereka bahkan sempat mengancam lewat sepakan Nathaniel Ogbeta dari sisi kiri kotak penalti, yang masih melayang tipis di atas mistar gawang Liverpool. Namun, Liverpool langsung memberi respons cepat. Pada menit kesembilan, Dominik Szoboszlai melepaskan tembakan keras dari luar kotak penalti yang meluncur akurat ke sudut atas gawang, membuat kiper Murphy Cooper tak berkutik. Gol ini langsung mengubah tempo permainan dan membuat Liverpool makin percaya diri. Barnsley masih sempat mencoba membalas. Davis Keillor-Dunn sempat menusuk dari tengah dan melepaskan tembakan mendatar dari depan kotak penalti, tapi kiper Liverpool, Giorgio Mamardashvili, masih sigap mengamankan bola. Gol Berbalas, Tapi Liverpool Tetap Pegang Kendali Tekanan Liverpool kembali berbuah di menit ke-37. Jeremie Frimpong menusuk dari sisi kanan kotak penalti, melewati hadangan lawan, lalu menuntaskan peluang dengan sepakan kaki kiri ke bagian atas gawang. Skor berubah jadi 2-0 dan publik Anfield kembali bersorak. Namun, hanya tiga menit berselang, Barnsley berhasil memperkecil ketertinggalan. Szoboszlai kehilangan bola di area berbahaya, dan Adam Phillips langsung memanfaatkannya untuk mencetak gol dari jarak dekat. Skor 2-1 membuat pertandingan sempat kembali terbuka. Meski begitu, Liverpool tetap terlihat lebih tenang dalam mengontrol permainan hingga babak pertama berakhir. Wirtz dan Ekitike Menutup Laga dengan Gaya Masuk babak kedua, Liverpool tetap menekan dan akhirnya memastikan kemenangan di menit ke-84. Florian Wirtz, yang masuk sebagai pemain pengganti, menerima rangkaian umpan cepat sebelum melepaskan tembakan keras ke sudut atas gawang untuk membawa Liverpool unggul 3-1. Belum puas, The Reds menambah satu gol lagi di masa injury time. Dalam skema serangan cepat, bola akhirnya sampai ke kaki Hugo Ekitike di kotak enam yard, dan striker muda itu menuntaskannya dengan sentuhan sederhana untuk mengubah skor jadi 4-1. Kemenangan ini menunjukkan kedalaman skuad Liverpool tetap solid, bahkan saat menghadapi jadwal padat. Lolos ke babak keempat dengan cara meyakinkan, The Reds kini bisa menatap Piala FA dengan optimisme tinggi dan modal kepercayaan diri yang makin kuat.

Gas di Anfield, Liverpool Libas Barnsley dan Lolos Mulus ke Babak Keempat Piala FA Read More »

Juventus Ngamuk di Turin, Cremonese Dibantai dan Tren Oke Berlanjut

Arenabetting – Juventus lagi-lagi tampil ganas di kandang sendiri. Menjamu Cremonese di Allianz Stadium pada Selasa (13/1/2026) dini hari WIB, Bianconeri menang telak 5-0 dalam lanjutan pekan ke-20 Liga Italia. Hasil ini bukan cuma soal pesta gol, tapi juga memperpanjang catatan tak terkalahkan Juventus jadi tujuh laga beruntun di semua ajang. Dari menit awal, pasukan Luciano Spalletti langsung tancap gas dan bikin lawan sulit bernapas. Gol Cepat Bikin Laga Cepat Condong Juventus membuka skor di menit ke-12 lewat situasi yang cukup unik. Tembakan voli jarak jauh Fabio Miretti sempat mengenai kepala Bremer dan berubah arah masuk ke sudut kanan gawang, membuat Emil Audero mati langkah. Belum sempat Cremonese bangkit, gawang mereka kembali kebobolan tiga menit kemudian. Serangan balik cepat yang dipimpin Khephren Thuram diakhiri dengan umpan matang ke Jonathan David, yang langsung menuntaskannya lewat duel satu lawan satu dengan Audero. Skor 2-0 bikin Juve makin nyaman mengatur tempo. Cremonese mencoba merapatkan barisan, tapi justru kembali apes di menit ke-35. Federico Baschirotto kedapatan menyentuh bola dengan tangan di kotak penalti saat mencoba memblok tembakan Thuram. Kenan Yildiz maju sebagai eksekutor, tendangannya sempat ditepis dan membentur tiang, tapi bola muntah langsung disambar lagi olehnya untuk mengubah skor jadi 3-0. Babak Kedua, Gol Terus Mengalir Masuk babak kedua, Juventus sama sekali tidak mengendurkan tekanan. Baru tiga menit setelah restart, Weston McKennie menerima umpan terobosan dari Miretti, melewati Audero, lalu menceploskan bola ke gawang kosong. Belum selesai sampai di situ, gawang Cremonese kembali kebobolan lewat situasi sial. Matteo Bianchetti sebenarnya sudah mencoba menyapu bola di garis gawang, tapi bola justru mengenai Filippo Terracciano dan masuk ke gawang sendiri. Skor melebar jadi 5-0 dan laga praktis sudah terkunci. Meski unggul jauh, Juventus tetap bermain rapi. Di menit ke-64, McKennie menambah koleksi golnya lewat sundulan keras menyambut umpan silang Pierre Kalulu yang bersarang di sudut kiri gawang. Skor 5-0 bertahan hingga peluit panjang. Posisi Klasemen Makin Menjanjikan Kemenangan besar ini membawa Juventus naik ke peringkat tiga klasemen dengan koleksi 39 poin. Mereka unggul selisih gol dari Napoli dan AS Roma yang punya poin sama, membuat persaingan papan atas makin panas. Sementara itu, Cremonese masih tertahan di posisi ke-13 dengan 22 poin dan sudah enam laga beruntun belum merasakan kemenangan. Performa mereka jelas perlu segera dibenahi kalau tidak mau terus melorot ke papan bawah. Buat Juventus, kemenangan ini jadi sinyal kuat bahwa mereka sedang berada di jalur yang tepat. Permainan kolektif makin solid, lini depan tajam, dan kepercayaan diri tim terlihat meningkat. Kalau tren ini terus berlanjut, bukan tidak mungkin Bianconeri bakal makin serius menantang di jalur juara.

Juventus Ngamuk di Turin, Cremonese Dibantai dan Tren Oke Berlanjut Read More »

Xabi Alonso Resmi Angkat Kaki, Final Piala Super Jadi Titik Balik di Madrid

Arenabetting – Real Madrid akhirnya memutuskan berpisah dengan Xabi Alonso. Kekalahan dari Barcelona di final Piala Super Spanyol 2026 tampaknya jadi momen terakhir yang membuat manajemen kehilangan kesabaran terhadap pelatih berusia 44 tahun tersebut. Keputusan ini cukup mengejutkan, mengingat Alonso baru ditunjuk pada musim panas lalu untuk menggantikan Carlo Ancelotti yang hijrah ke Timnas Brasil. Di awal masa tugasnya, Alonso sebenarnya terlihat menjanjikan dan bikin publik Bernabeu optimistis. Start Kencang, Madrid Sempat Terbang Tinggi Pada fase awal musim, Real Madrid tampil luar biasa. Dari 14 laga pertama, mereka mampu meraih 13 kemenangan, termasuk menaklukkan Barcelona dengan skor 2-1. Saat itu, Los Blancos nyaman bertengger di puncak klasemen LaLiga dan juga bersaing di papan atas fase grup Liga Champions. Permainan tim terlihat solid, lini depan tajam, dan pertahanan cukup disiplin. Banyak yang mulai percaya bahwa Alonso adalah sosok yang tepat untuk memulai era baru di Santiago Bernabeu. Namun, grafik performa itu tidak bertahan lama. Performa Turun, Hasil Negatif Mulai Datang Memasuki periode berikutnya, performa Madrid justru menurun drastis. Kylian Mbappe dan kawan-kawan hanya mampu memenangi tiga dari sembilan pertandingan di semua kompetisi. Lebih parahnya lagi, mereka menelan kekalahan di kandang sendiri dari Celta Vigo dan Manchester City, hasil yang jelas sulit diterima publik Madrid. Di LaLiga, posisi puncak yang sebelumnya dikuasai Madrid akhirnya direbut oleh Barcelona. Tekanan pun makin besar, baik ke tim maupun ke kursi pelatih. Menurut laporan media, manajemen sebenarnya tidak sepenuhnya ingin melepas Alonso. Mereka juga paham bahwa tidak semua masalah bisa ditimpakan ke pelatih semata. Tapi di klub sebesar Real Madrid, hasil di lapangan tetap jadi ukuran utama. Ruang Ganti Retak Jadi Masalah Tambahan Selain hasil pertandingan, suasana di ruang ganti juga disebut ikut memengaruhi keputusan ini. Gaya kepemimpinan Alonso kabarnya tidak sepenuhnya cocok dengan semua pemain. Beberapa nama besar disebut kurang nyaman, bukan hanya Vinicius Junior, tapi juga pemain penting lain seperti Jude Bellingham dan Federico Valverde. Ketika hubungan pelatih dan pemain mulai renggang, situasi biasanya sulit diperbaiki, apalagi di tengah jadwal padat dan tekanan tinggi. Puncaknya terjadi saat Madrid kalah 2-3 dari Barcelona di final Piala Super Spanyol yang digelar di Jeddah pada 11 Januari. Kurang dari 24 jam setelah laga tersebut, klub langsung mengumumkan perpisahan dengan Alonso. Pergi dengan Catatan yang Masih Layak Meski berakhir cepat, catatan Alonso bersama Madrid sebenarnya tidak bisa dibilang buruk. Dari 34 pertandingan yang ia pimpin, Madrid meraih 24 kemenangan atau sekitar 70 persen tingkat kemenangan. Angka ini masih tergolong tinggi dan hanya kalah dari beberapa pelatih top dalam dua dekade terakhir seperti Ancelotti, Jose Mourinho, dan Manuel Pellegrini. Namun di Real Madrid, statistik bagus saja sering kali belum cukup. Stabilitas, harmoni tim, dan tentu saja trofi tetap jadi tuntutan utama. Kini, Madrid kembali memasuki fase baru, sementara Alonso harus menerima kenyataan bahwa perjalanan singkatnya di klub lamanya berakhir lebih cepat dari yang banyak orang perkirakan.

Xabi Alonso Resmi Angkat Kaki, Final Piala Super Jadi Titik Balik di Madrid Read More »

Habis Final, Habis Juga: Xabi Alonso Resmi Tinggalkan Real Madrid

Arenabetting – Real Madrid kembali bikin keputusan yang bikin banyak orang kaget. Belum genap 24 jam setelah kalah di final Piala Super Spanyol 2026 dari Barcelona, Los Blancos resmi berpisah dengan pelatih mereka, Xabi Alonso. Pengumuman ini dirilis klub pada Senin (11/1) malam waktu setempat, atau Selasa (12/1) dini hari WIB. Lewat pernyataan resmi, Madrid mengonfirmasi bahwa keputusan ini diambil berdasarkan kesepakatan bersama antara klub dan sang pelatih. Artinya, perpisahan ini tidak disebut sebagai pemecatan sepihak, melainkan hasil dari pembicaraan kedua belah pihak. Ucapan Terima Kasih untuk Sang Legenda Dalam pernyataannya, pihak klub menegaskan bahwa Alonso akan selalu mendapat tempat spesial di hati para pendukung Madrid. Ia disebut sebagai legenda yang dinilai selalu mewakili nilai-nilai klub, baik saat masih menjadi pemain maupun ketika duduk di kursi pelatih. Madrid juga menyampaikan apresiasi kepada Alonso dan seluruh staf kepelatihannya atas kerja keras serta dedikasi selama beberapa bulan terakhir. Klub berharap perjalanan baru Alonso ke depan bisa berjalan lancar dan penuh kesuksesan. Kalimat perpisahan itu jelas menunjukkan bahwa hubungan antara kedua pihak tetap dijaga dengan nuansa hormat, meski kerja sama harus berakhir lebih cepat dari rencana awal. Kekalahan di Final Jadi Titik Balik Perpisahan ini terjadi tepat setelah Madrid tumbang 2-3 dari Barcelona di final Piala Super Spanyol yang digelar di King Abdullah Sport City Stadium, Jeddah, Arab Saudi, pada Senin (11/1) dini hari WIB. Dalam laga tersebut, Vinicius Junior dan kawan-kawan gagal membendung permainan agresif Blaugrana. Hasil itu membuat situasi Madrid musim ini terasa makin berat. Selain gagal meraih trofi, mereka juga tertinggal dari Barcelona di klasemen LaLiga dengan selisih empat poin. Tekanan pun otomatis mengarah ke ruang ganti dan kursi pelatih. Meski keputusan ini terkesan mendadak, banyak yang menilai bahwa kekalahan di final tersebut menjadi pemicu terakhir dari rangkaian evaluasi yang sudah berjalan sebelumnya. Statistik Tak Buruk, Tapi Standar Madrid Berbeda Secara angka, catatan Alonso bersama Real Madrid sebenarnya masih tergolong solid. Sejak ditunjuk pada musim panas lalu, ia memimpin tim dalam 34 pertandingan di semua kompetisi, dengan hasil 24 kemenangan, empat kali imbang, dan enam kekalahan. Rasio kemenangan itu terbilang tinggi, apalagi untuk pelatih yang baru menjalani musim pertamanya. Namun, di klub sebesar Real Madrid, statistik bagus saja sering kali belum cukup. Target selalu jelas: harus menang di laga besar dan mengangkat trofi. Ketika hasil di pertandingan krusial tidak sesuai harapan, posisi pelatih pun otomatis berada di bawah sorotan tajam. Madrid Kembali Masuk Babak Baru Dengan kepergian Alonso, Real Madrid kini kembali memasuki fase transisi. Manajemen harus bergerak cepat menentukan siapa sosok yang dianggap paling pas untuk menjaga stabilitas tim dan tetap bersaing di jalur juara. Sementara bagi Alonso, meski perjalanannya di Madrid sebagai pelatih terbilang singkat, statusnya sebagai legenda klub tidak akan luntur. Ia pergi dengan kepala tegak, meninggalkan kesan bahwa suatu hari nanti, pintu Bernabeu tetap terbuka jika takdir mempertemukan mereka lagi.

Habis Final, Habis Juga: Xabi Alonso Resmi Tinggalkan Real Madrid Read More »

Bukan Ole, MU Condong Pilih Carrick Jadi Manajer Interim, Ini Alasannya

Arenabetting – Manchester United dikabarkan sudah hampir menentukan siapa yang bakal mengisi kursi manajer interim sampai akhir musim. Menariknya, nama yang paling depan justru bukan Ole Gunnar Solskjaer, melainkan Michael Carrick. Jika tidak ada perubahan, penunjukan ini disebut bakal diumumkan dalam waktu sekitar 48 jam ke depan. Padahal, Solskjaer juga sempat masuk radar dan bahkan sudah menjalani proses wawancara. Namun, arah keputusan manajemen disebut mengerucut ke Carrick. Lalu, apa yang bikin MU lebih condong ke mantan gelandangnya itu? Faktor Ruang Ganti Jadi Penentu Menurut laporan media Inggris, salah satu alasan utama kenapa Carrick lebih dipilih adalah karena dukungan dari pemain senior. Disebutkan bahwa beberapa pemain inti kurang yakin jika harus kembali bekerja di bawah arahan Solskjaer. Para pemain kabarnya merasa lebih nyaman jika tim dipimpin Carrick, yang dianggap punya pendekatan lebih kalem dan komunikatif. Dalam situasi tim yang sedang goyah, manajemen menilai kestabilan ruang ganti jadi faktor krusial, apalagi tugas manajer interim bukan cuma soal taktik, tapi juga menjaga suasana tim tetap kondusif. Dengan kata lain, pilihan ke Carrick dianggap lebih aman untuk meredam potensi gejolak internal sampai musim berakhir. Hubungan Lama dengan Skuad MU Carrick dan Solskjaer sebenarnya punya sejarah yang cukup erat di Old Trafford. Keduanya sama-sama legenda klub dan pernah bekerja bareng saat Solskjaer melatih MU pada periode 2018 hingga 2021. Di masa itu, Carrick berperan sebagai asisten pelatih. Bersama, mereka sempat membawa MU bersaing di papan atas Liga Inggris dan menembus final Liga Europa. Jadi, Carrick sudah sangat paham bagaimana dinamika ruang ganti MU, termasuk karakter para pemainnya. Ketika Solskjaer dipecat, Carrick juga sempat dipercaya memimpin tim dalam tiga laga sebagai manajer sementara. Hasilnya cukup meyakinkan, dengan dua kemenangan dan satu hasil imbang. Catatan singkat itu membuat banyak pihak menilai Carrick bukan sekadar pelatih transisi tanpa arah. Lanjutkan Tugas Setelah Amorim Jika benar ditunjuk, Carrick akan melanjutkan pekerjaan Ruben Amorim yang dipecat pada awal tahun ini. Untuk sementara, MU memang sempat dipimpin Darren Fletcher, yang juga mantan pemain Setan Merah dan rekan setim Carrick dulu. Namun, di bawah Fletcher, MU hanya meraih satu hasil imbang dan satu kekalahan. Terbaru, mereka tersingkir dari Piala FA 2025/2026 usai kalah dari Brighton & Hove Albion di babak ketiga pada Minggu (11/1). Dengan tersingkirnya MU dari Piala FA, fokus tim kini sepenuhnya tertuju ke Liga Inggris. Jika Carrick resmi menjabat, tugas utamanya adalah mengangkat performa Bruno Fernandes dan kawan-kawan agar bisa menutup musim dengan posisi sebaik mungkin di klasemen. Pilihan Aman di Masa Sulit Penunjukan manajer interim memang bukan soal mencari revolusi besar, tapi lebih ke menjaga stabilitas. Dalam konteks itu, Carrick dianggap sebagai sosok yang mengenal klub luar dalam, disukai pemain, dan sudah pernah membuktikan bisa menangani tim dalam tekanan singkat. Meski bukan solusi jangka panjang, Carrick dinilai sebagai pilihan paling realistis untuk saat ini. Tinggal tunggu pengumuman resmi, apakah rumor ini benar-benar jadi kenyataan atau justru ada kejutan lain dari manajemen MU.

Bukan Ole, MU Condong Pilih Carrick Jadi Manajer Interim, Ini Alasannya Read More »

Simeone Akui Khilaf, Minta Maaf ke Vinicius Usai Panasnya Derby Madrid

Arenabetting – Derby Madrid di semifinal Piala Super Spanyol 2026 bukan cuma soal adu taktik di lapangan, tapi juga panas di pinggir lapangan. Pelatih Atletico Madrid, Diego Simeone, akhirnya angkat bicara dan menyampaikan permintaan maaf kepada winger Real Madrid, Vinicius Junior, setelah keduanya terlibat adu mulut di tengah pertandingan. Atletico harus mengakui keunggulan rival sekota dengan skor 1-2. Namun, yang paling disorot justru momen ketika Simeone melontarkan komentar yang menyentil masa depan Vinicius di Madrid, yang langsung bikin suasana makin panas. Sindiran yang Bikin Situasi Meledak Dalam satu momen di tepi lapangan, Simeone sempat mengeluarkan kalimat bernada provokatif ke arah Vinicius. Ucapannya menyinggung soal kemungkinan presiden klub, Florentino Perez, bakal melepas sang winger di masa depan. Sindiran itu jelas menyasar situasi kontrak Vinicius yang memang sedang jadi bahan spekulasi. Seperti diketahui, kontrak Vinicius Junior di Real Madrid akan habis tahun depan. Proses negosiasi perpanjangan kontrak kabarnya belum menemui titik temu, sehingga masa depannya masih abu-abu. Komentar Simeone pun dianggap menekan mental pemain yang sedang berada dalam situasi sensitif. Akibatnya, Vinicius terlihat terpancing emosi dan hampir mendatangi Simeone saat dirinya ditarik keluar. Ketegangan pun merembet ke bangku cadangan dan melibatkan staf dari kedua tim, membuat derby makin panas dari biasanya. Simeone Menyesal, Akui Sikapnya Keliru Menjelang laga Atletico Madrid melawan Deportivo La Coruna di Copa del Rey, Simeone akhirnya buka suara. Ia mengakui bahwa dirinya menyesal telah melontarkan komentar tersebut. Menurutnya, ia tidak seharusnya menempatkan diri dalam situasi yang bisa memperkeruh suasana, apalagi dalam pertandingan sebesar derby. Pelatih yang akrab disapa El Cholo itu juga menyampaikan permintaan maaf kepada Florentino Perez dan Vinicius atas insiden yang mereka alami. Ia menilai apa yang terjadi adalah kesalahannya sendiri dan mengakui bahwa tindakannya tidak pantas untuk dilakukan di tengah pertandingan. Meski begitu, Simeone menegaskan bahwa ia tidak meminta pengampunan. Baginya, yang terpenting adalah mengakui kesalahan dan bertanggung jawab atas ucapannya, tanpa perlu memperpanjang drama di luar lapangan. Sportivitas Tetap di Atas Segalanya Dalam pernyataannya, Simeone juga menegaskan bahwa Real Madrid memang pantas melaju ke final Piala Super Spanyol. Ia menilai tim yang menang memang layak lolos, terlepas dari insiden panas yang terjadi di tengah laga. Sikap ini menunjukkan bahwa meski emosinya sempat terpancing, Simeone tetap mengakui keunggulan lawan secara sportif. Derby boleh panas, tapi respek antarprofesional tetap harus dijaga. Insiden ini jadi pengingat bahwa tensi tinggi di laga besar bisa membuat siapa pun terpancing, termasuk pelatih berpengalaman sekaliber Simeone. Untungnya, klarifikasi dan permintaan maaf cepat diberikan, sehingga fokus kini bisa kembali ke sepak bola, bukan ke drama di pinggir lapangan.

Simeone Akui Khilaf, Minta Maaf ke Vinicius Usai Panasnya Derby Madrid Read More »