Arenabetting – Real Madrid resmi menunjuk Alvaro Arbeloa sebagai pelatih baru untuk menggantikan Xabi Alonso. Keputusan ini cukup bikin kaget, karena Arbeloa belum pernah menangani tim senior sebelumnya. Meski begitu, sosok berusia 42 tahun ini bukan orang asing di lingkungan Los Blancos. Ia adalah produk akademi klub dan sudah lama tumbuh bersama kultur Madrid.
Penunjukan ini sekaligus jadi langkah berani manajemen untuk mempercayakan tim utama kepada pelatih yang benar-benar paham DNA klub.
Produk Akademi yang Sempat Terbuang
Arbeloa mulai bergabung dengan akademi Real Madrid pada 2001, saat usianya 18 tahun, setelah sebelumnya menimba ilmu di Real Zaragoza. Ia naik level secara bertahap hingga akhirnya dipromosikan ke tim utama pada 2004.
Sayangnya, persaingan di posisi bek saat itu sangat ketat. Karena stok pemain yang menumpuk, Arbeloa harus angkat kaki dan dilepas ke Deportivo La Coruna pada Juli 2006. Namun petualangannya di sana hanya bertahan sekitar enam bulan.
Pada Januari 2007, ia direkrut Liverpool yang saat itu dilatih Rafael Benitez. Bersama The Reds, Arbeloa bertahan selama dua setengah musim dan mulai dikenal sebagai bek serbabisa yang disiplin dan pekerja keras.
Pulang ke Madrid, Panen Trofi
Performa stabil di Inggris membuat Real Madrid memulangkannya pada Juli 2009. Kali ini ceritanya jauh berbeda. Arbeloa mampu bertahan hingga tujuh musim, tepatnya sampai 2016, dan jadi bagian penting dari skuad.
Selama periode tersebut, ia tampil dalam 238 pertandingan dan mencetak enam gol. Yang lebih penting, ia ikut mengoleksi delapan trofi, termasuk satu gelar LaLiga dan dua titel Liga Champions. Ia memang bukan tipe bek glamor, tapi perannya sangat vital dalam menjaga keseimbangan tim.
Setelah meninggalkan Madrid, Arbeloa menutup karier bermainnya bersama West Ham United pada musim panas 2017.
Juara Dunia, Lalu Jadi Pelatih
Di level internasional, Arbeloa juga punya cerita emas. Ia termasuk dalam skuad Spanyol yang mencatat sejarah dengan menjuarai Euro 2008, Piala Dunia 2010, dan Euro 2012 secara beruntun.
Tiga tahun setelah gantung sepatu, ia kembali ke Real Madrid, kali ini sebagai pelatih tim usia muda. Ia menangani berbagai kelompok umur, mulai dari U-14, U-16, hingga akhirnya dipercaya memegang U-19.
Pada Juni 2025, Arbeloa dipromosikan menjadi pelatih Real Madrid Castilla, tim muda yang jadi pintu terakhir sebelum pemain naik ke tim utama. Dari 19 laga yang ia tangani, catatannya adalah 10 kemenangan, satu imbang, dan delapan kekalahan.
Tantangan Besar di Tim Utama
Kini, tantangannya jauh lebih besar. Arbeloa ditunjuk menangani tim utama Real Madrid, menggantikan Xabi Alonso yang juga mantan rekan setimnya. Ini menjadi debutnya melatih tim senior, langsung di klub sebesar Madrid dengan tekanan yang luar biasa.
Pertanyaan besarnya sekarang adalah apakah Arbeloa mampu mengelola ruang ganti penuh bintang dan menjaga stabilitas tim. Tugas ini tidak mudah, apalagi ekspektasi publik Madrid selalu setinggi langit.
Namun satu hal yang pasti, Arbeloa datang dengan pemahaman mendalam soal identitas klub. Jika ia mampu menerjemahkan nilai-nilai itu ke dalam permainan dan manajemen tim, bukan tidak mungkin kejutan besar justru datang dari pelatih yang satu ini.


