Arenabetting – Chelsea resmi memulai babak baru dengan menunjuk Liam Rosenior sebagai pelatih kepala pada 6 Januari 2026. Ia datang menggantikan Enzo Maresca yang harus angkat kaki lebih cepat dari rencana. Menariknya, manajemen The Blues langsung memberi kepercayaan besar dengan kontrak panjang sampai tahun 2032, setelah merekrutnya dari klub Ligue 1, Strasbourg.
Dalam pengumuman resminya, Chelsea menyampaikan bahwa pelatih asal Inggris itu menandatangani kontrak jangka panjang sebagai bagian dari rencana klub membangun tim secara berkelanjutan. Artinya, Rosenior tidak datang cuma untuk jadi solusi jangka pendek, tapi diproyeksikan sebagai bagian penting dari masa depan klub.
Ingin Bertahan Lama, Tapi Tahu Syaratnya Harus Menang
Setelah resmi bergabung, Rosenior menyampaikan bahwa ia ingin bertahan lama di Stamford Bridge, bahkan berharap bisa mengikuti jejak Mikel Arteta yang sudah melatih Arsenal hampir enam tahun. Ia melihat bagaimana konsistensi dan kesabaran bisa membentuk tim yang kuat dan selalu bersaing di papan atas.
Namun, Rosenior juga realistis. Ia paham bahwa di Chelsea, satu-satunya cara untuk bertahan adalah dengan terus meraih kemenangan dan gelar. Baginya, proyek jangka panjang tetap harus dibarengi hasil nyata di lapangan. Ia menilai setiap klub memang punya konsep proyek masing-masing, tapi tujuan akhirnya tetap sama, yakni berusaha menang di setiap pertandingan.
Pendekatan ini menunjukkan bahwa Rosenior tidak ingin sekadar membangun, tapi juga langsung kompetitif sejak awal.
Kontrak Panjang, Tapi Fans Tetap Deg-degan
Meski dikontrak sampai 2032, banyak yang masih ragu apakah Rosenior benar-benar bisa bertahan lama. Alasannya sederhana: rekam jejak Chelsea di era kepemilikan BlueCo tidak terlalu ramah bagi para pelatih.
Sebelum Rosenior, Graham Potter dan Enzo Maresca juga sempat mendapat kontrak jangka panjang. Namun, keduanya tetap diberhentikan sebelum masa kontraknya selesai. Situasi ini membuat sebagian fans menilai kontrak panjang di Chelsea tidak selalu jadi jaminan keamanan.
Tekanan di Stamford Bridge memang terkenal besar, dan kesabaran manajemen sering kali bergantung pada hasil jangka pendek.
Proyek Tim dan Target Trofi Sejak Awal
Rosenior menyebut bahwa ia sudah punya gambaran seperti apa tim yang ingin ia bangun dalam satu, dua, hingga tiga tahun ke depan. Namun, ia juga menegaskan bahwa skuad Chelsea saat ini sudah cukup kuat untuk bersaing dan menang sekarang, bukan hanya di masa depan.
Ia menilai klub memiliki sumber daya dan kualitas pemain yang bisa langsung dimaksimalkan, sambil tetap menjalankan rencana jangka panjang secara bertahap.
Kesempatan meraih trofi pertama pun datang cukup cepat. Chelsea masih bertahan di ajang Piala Liga Inggris 2025/2026 dan akan menghadapi Arsenal di babak semifinal. Leg pertama bakal digelar di Stamford Bridge pada Kamis (15/1/2026) dini hari WIB, lalu leg kedua di Emirates Stadium pada Rabu (4/2/2026).
Awal Ujian Serius untuk Rosenior
Laga lawan Arsenal bukan cuma soal tiket ke final, tapi juga jadi ujian awal proyek Rosenior di Chelsea. Menghadapi Arteta yang sudah lebih dulu membangun tim matang, Rosenior punya kesempatan besar untuk menunjukkan bahwa ia bukan sekadar pelatih muda penuh ide, tapi juga mampu bersaing di level tertinggi.
Kalau start-nya mulus dan trofi bisa diraih, kepercayaan publik bakal meningkat. Tapi kalau hasil tak sesuai harapan, tekanan khas Chelsea siap datang lebih cepat dari yang dibayangkan.


