Harapan AC Milan untuk terus menekan Inter Milan dalam perburuan gelar Serie A kembali mendapat pukulan. Bermain di San Siro, Senin (23/2) dini hari WIB, Rossoneri justru harus mengakui keunggulan Parma dengan skor tipis 0-1. Kekalahan ini membuat jarak di puncak klasemen makin melebar dan peluang Scudetto semakin berat.
Milan datang ke laga tersebut dengan tekanan besar untuk menang. Namun yang terjadi di lapangan tak sesuai ekspektasi.
Dominan, Tapi Mandul di Depan Gawang
Sepanjang pertandingan, Milan sebenarnya tampil agresif. Mereka menggempur pertahanan Parma dan mencatatkan 25 percobaan ke arah gawang. Bahkan ada dua peluang emas yang seharusnya bisa berbuah gol. Sayangnya, efektivitas jadi masalah utama.
Kebuntuan baru pecah di menit ke-79, tapi bukan untuk tuan rumah. Situasi sepak pojok dari sisi kanan menjadi awal petaka. Mariano Troilo muncul di tiang jauh dan menanduk bola tanpa bisa diantisipasi dengan sempurna oleh Mike Maignan. Gol itu seakan membungkam San Siro.
Setelah tertinggal, Milan mencoba meningkatkan intensitas serangan. Namun hingga peluit akhir berbunyi, bola tak kunjung bersarang ke gawang Parma. Malam itu benar-benar terasa seperti hari sial bagi Rossoneri.
Jarak Melebar, Tekanan Bertambah
Akibat hasil ini, Milan tetap berada di posisi kedua dengan 54 poin, namun kini tertinggal 10 angka dari Inter yang kokoh di puncak. Dengan kompetisi menyisakan 12 pertandingan, selisih tersebut jelas bukan perkara mudah untuk dikejar.
Asisten pelatih Milan, Marco Landucci, mengisyaratkan kekecewaannya usai laga. Ia menilai Parma tampil disiplin dan menyulitkan, sementara Milan seolah kehilangan sentuhan akhir. Ia juga menyiratkan bahwa timnya seharusnya tidak terlalu memikirkan hasil klub lain, melainkan fokus mengumpulkan poin sebanyak mungkin dari laga sendiri.
Menurutnya, target realistis saat ini adalah memastikan tiket kembali ke Liga Champions, bukan sekadar mengejar rival sekota.
Bangkit atau Menyerah?
Kekalahan dari Parma menjadi yang kedua bagi Milan di Serie A musim ini. Sebelumnya, mereka hanya tumbang saat menghadapi Cremonese pada pekan pembuka. Artinya, secara keseluruhan performa mereka masih cukup stabil.
Namun di fase krusial seperti sekarang, kehilangan tiga poin di kandang sendiri jelas terasa mahal. Landucci memberi sinyal bahwa tim harus segera move on dan bersiap untuk laga berikutnya. Kekecewaan memang ada, tapi musim belum selesai.
Pertanyaannya sekarang, apakah Milan masih punya energi untuk terus menekan hingga akhir? Atau fokus realistis ke zona Liga Champions jadi pilihan paling masuk akal? Sisa 12 laga akan jadi penentu arah musim Rossoneri.


