Arenabetting – AS Roma lagi-lagi jadi bahan obrolan di Serie A musim ini. Bukan karena performa buruk secara keseluruhan, tapi gara-gara satu catatan yang cukup mengganggu: rekor mereka saat berhadapan langsung dengan rival papan atas. Meski kini nangkring di posisi keempat klasemen Liga Italia, Roma ternyata selalu kalah setiap kali bertemu tim elite.
Saat ini, I Lupi cuma terpaut tiga poin dari Inter Milan yang ada di puncak klasemen, bahkan dengan satu laga lebih sedikit. Secara matematis, peluang juara masih terbuka. Tapi kalau bicara duel besar, ceritanya agak pahit.
Rekor Buruk di Laga Head to Head
Sepanjang musim ini, Roma sudah bertemu empat tim dari lima besar Serie A, yakni Inter Milan, AC Milan, Napoli, dan Juventus. Hasilnya? Empat pertandingan, empat kekalahan. Catatan ini jelas jadi alarm serius, apalagi kalau Roma ingin benar-benar bersaing di jalur juara.
Menariknya, kekalahan tersebut tidak selalu datang karena Roma tampil buruk. Justru di banyak laga, mereka mampu mengontrol permainan dan bersaing secara taktik. Namun, hasil akhir tetap tidak berpihak.
Masalah Klasik: Kurang Tajam di Depan Gawang
Bryan Cristante melihat masalah utama Roma bukan pada kualitas permainan, melainkan detail kecil yang sering luput. Menurutnya, Roma kerap tampil solid dan memegang kendali pertandingan dalam waktu yang cukup lama, tetapi gagal memaksimalkan peluang menjadi gol.
Cristante menilai efektivitas di depan gawang masih jadi pekerjaan rumah besar. Dalam laga-laga besar, satu peluang bisa menentukan segalanya. Ketika Roma gagal mencetak gol lebih dulu atau menyamakan kedudukan, lawan justru tampil lebih klinis dan menghukum kesalahan kecil yang terjadi.
Modal Percaya Diri dari Rekor 2025
Meski rekor head to head terbilang jeblok, Roma tetap punya sisi positif untuk dijadikan pegangan. Sepanjang tahun kalender 2025, Roma tercatat sebagai tim dengan jumlah kemenangan terbanyak di Serie A. Total 26 kemenangan dibukukan Paulo Dybala dan kolega dalam periode tersebut.
Bagi Cristante, catatan ini menunjukkan Roma sebenarnya berada di jalur yang benar. Meski musim dan konteksnya berbeda, konsistensi menang tersebut memberikan suntikan kepercayaan diri yang penting bagi tim.
Fokus ke Paruh Kedua Musim
Ke depan, Roma dituntut untuk lebih dewasa saat menghadapi tim besar. Bukan cuma soal bermain bagus, tapi juga soal menyelesaikan laga dengan hasil maksimal. Cristante menegaskan bahwa tim harus menjaga momentum positif dan terus berkembang di paruh kedua musim.
Jika ketajaman bisa ditingkatkan dan detail kecil diperbaiki, bukan tidak mungkin Roma bakal mengubah cerita buruk di laga besar. Tantangannya sekarang sederhana tapi krusial: bermain bagus saja tidak cukup, yang dihitung tetap kemenangan.


