Arenabetting – Inter Milan sukses mengamankan kemenangan penting saat menjamu Bologna di Giuseppe Meazza. Skor 3-1 tak cuma mengantar Nerazzurri kembali ke puncak klasemen Serie A, tapi juga menyisakan cerita unik dari pinggir lapangan. Bukan soal taktik atau gol indah, melainkan kondisi sang pelatih, Cristian Chivu, yang mendadak “menghilang” setelah laga.
Inter memastikan tiga poin lewat gol Piotr Zielinski di babak pertama, lalu disusul lesakan Lautaro Martinez dan Marcus Thuram selepas jeda. Bologna hanya mampu membalas satu gol lewat Santiago Castro. Hasil ini membuat Inter mengoleksi 39 poin, unggul tipis satu angka dari AC Milan di posisi kedua.
Inter Menang, Chivu Justru Tak Muncul
Usai pertandingan, biasanya pelatih akan duduk di ruang konferensi pers untuk menjawab pertanyaan wartawan. Namun kali ini, kursi Cristian Chivu kosong. Banyak yang mengira pelatih asal Rumania itu sedang kesal atau sengaja menghindari media. Nyatanya, alasan di balik absennya Chivu jauh dari drama.
Chivu ternyata kehilangan suaranya. Sepanjang 90 menit pertandingan, ia terus berteriak dari sisi lapangan demi mengatur permainan dan memberi instruksi kepada anak asuhnya. Alhasil, suaranya benar-benar habis dan ia tak memungkinkan untuk berbicara panjang lebar di depan media.
Kolarov Jadi Juru Bicara Dadakan
Sebagai solusi, Chivu mengutus asistennya, Aleksandar Kolarov, untuk mewakili Inter dalam sesi konferensi pers. Kolarov sendiri bukan sosok asing di ruang tersebut. Ia pernah menjadi bagian dari staf kepelatihan Inter di era Simone Inzaghi, sehingga sudah cukup terbiasa menghadapi awak media.
Menariknya, Kolarov justru mengungkap fakta unik soal gaya melatih Chivu. Menurutnya, Chivu ternyata jauh lebih vokal dibandingkan Inzaghi saat berada di tepi lapangan. Dari luar, Chivu memang terlihat kalem dan tenang, tapi saat pertandingan berlangsung, energinya meledak-ledak.
Kalem di Luar, Meledak di Dalam
Kolarov menjelaskan bahwa karakter Chivu memang seperti itu. Di luar lapangan, mantan bek Inter tersebut dikenal sebagai pribadi yang santai dan pendiam. Namun begitu peluit kick-off dibunyikan, naluri kompetitifnya langsung keluar. Ia tak ragu berteriak keras demi menjaga fokus dan intensitas tim.
Kejadian ini juga pernah dialami Inzaghi di masa lalu, ketika ia absen konferensi pers karena alasan serupa. Bedanya, menurut Kolarov, Chivu berpotensi lebih sering kehilangan suara jika terus mempertahankan gaya kepelatihannya yang super aktif.
Bagi Interisti, kisah ini justru jadi bukti lain betapa totalnya Chivu di pinggir lapangan. Bukan cuma kemenangan dan puncak klasemen, tapi juga dedikasi pelatih yang rela “kehabisan suara” demi tiga poin.


