Arenabetting – Musim Premier League 2025/2026 kembali menunjukkan kerasnya persaingan, bukan hanya bagi pemain tetapi juga pelatih. Kali ini, Thomas Frank menjadi korban terbaru setelah resmi berpisah dengan Tottenham Hotspur. Keputusan tersebut menambah panjang daftar manajer yang kehilangan jabatan di tengah musim.
Pemecatan Frank membuatnya menjadi pelatih ketujuh yang harus angkat kaki sepanjang musim ini, di luar perubahan yang terjadi saat pramusim. Situasi ini menegaskan bahwa tekanan tinggi di kompetisi Inggris tidak hanya dirasakan pemain, tetapi juga jajaran staf kepelatihan.
Tottenham Ambil Keputusan Demi Performa Tim
Tottenham mengumumkan pergantian pelatih melalui pernyataan resmi klub. Manajemen menyampaikan bahwa perubahan pada posisi pelatih kepala tim putra telah diputuskan dan Frank tidak lagi melanjutkan tugasnya mulai hari tersebut.
Meski keputusan ini diambil, klub tetap memberikan apresiasi terhadap kontribusi Frank. Tottenham menilai pelatih asal Denmark itu menunjukkan komitmen kuat sejak ditunjuk pada Juni 2025. Namun, performa tim yang dianggap belum memenuhi harapan menjadi faktor utama di balik pergantian tersebut.
Tren Pemecatan Pelatih Makin Marak
Pemecatan Frank menjadi bagian dari tren perubahan pelatih yang cukup tinggi musim ini. Sejak awal tahun 2026 saja, beberapa nama besar juga mengalami nasib serupa, termasuk Enzo Maresca yang berpisah dengan Chelsea serta Ruben Amorim yang tidak lagi melatih Manchester United.
Fenomena ini menunjukkan bahwa klub-klub Premier League semakin menuntut hasil instan. Ketika performa tidak sesuai target, perubahan pelatih kerap menjadi solusi cepat yang dipilih manajemen untuk memperbaiki situasi tim.
Nottingham Forest Paling Aktif Ganti Pelatih
Di antara klub lainnya, Nottingham Forest menjadi tim yang paling sering melakukan pergantian pelatih musim ini. Klub yang bermarkas di City Ground tersebut bahkan melakukan dua pemecatan hanya dalam kurun waktu dua bulan di awal kompetisi.
Nuno Espirito Santo menjadi pelatih pertama yang diberhentikan pada September 2025 sebelum digantikan Ange Postecoglou. Namun, masa jabatan Postecoglou tidak berlangsung lama karena ia juga dilepas pada Oktober. Saat ini, tim ditangani oleh Sean Dyche yang masih memimpin skuad hingga sekarang.
Tekanan Tinggi Jadi Realita Premier League
Tingginya frekuensi pergantian pelatih menunjukkan betapa kompetitifnya Premier League. Klub tidak hanya mengejar prestasi, tetapi juga menjaga stabilitas posisi di klasemen, target finansial, serta ekspektasi suporter yang besar.
Kasus pemecatan Thomas Frank menjadi contoh nyata bahwa reputasi dan kerja keras belum tentu cukup tanpa hasil positif di lapangan. Dengan musim yang masih berjalan, kemungkinan perubahan pelatih lain tetap terbuka. Situasi ini membuat kursi panas manajer Premier League terus menjadi sorotan, sekaligus menambah drama dalam kompetisi sepak bola paling kompetitif di dunia.


