Arenabetting Situs Judi Bola Sbobet Terpercaya

Berita Bola

Paul Scholes Bela Arsenal soal VAR, Gol West Ham Memang Layak Dianulir

Arenabetting – Kemenangan Arsenal atas West Ham United ternyata masih memunculkan perdebatan panas. Bukan soal gol Leandro Trossard yang membawa The Gunners menang, melainkan keputusan VAR pada menit-menit akhir pertandingan. Dalam laga di London Stadium, Arsenal sempat dibuat cemas setelah Callum Wilson mencetak gol penyeimbang pada injury time. Namun setelah tinjauan VAR, gol tersebut akhirnya dianulir karena dianggap terjadi pelanggaran terhadap David Raya. Keputusan itu langsung ramai dibahas di media sosial. Banyak fans merasa West Ham dirugikan, apalagi Arsenal selama ini juga sering memainkan duel fisik dengan kiper lawan saat situasi sepak pojok. Scholes Justru Berdiri di Pihak Arsenal Menariknya, Paul Scholes yang cukup sering mengkritik Arsenal musim ini justru membela keputusan wasit. Legenda Manchester United tersebut menilai VAR kali ini bekerja dengan benar. Menurut Scholes, pelanggaran terhadap David Raya terlihat sangat jelas dari tayangan ulang. Ia merasa penjaga gawang Arsenal itu memang tidak punya ruang untuk bergerak bebas. Mantan gelandang Setan Merah tersebut menjelaskan bahwa ada lebih dari satu kontak yang membuat Raya kesulitan. Salah satunya terjadi ketika lengannya ditarik dalam duel di kotak penalti. Scholes juga menegaskan bahwa permainan Arsenal selama ini sebenarnya masih berada dalam batas wajar. Ia menilai banyak orang salah paham ketika membandingkan situasi tersebut dengan taktik bola mati milik The Gunners. Kontroversi VAR Kembali Jadi Sorotan Meski keputusan dianggap benar, kontroversi VAR lagi-lagi menjadi bahan perdebatan besar di Inggris. Banyak fans merasa aturan soal kontak terhadap kiper masih sering membingungkan. Sebagian pendukung West Ham merasa gol itu seharusnya tetap sah karena duel fisik seperti itu kerap terjadi di Premier League. Apalagi Arsenal juga pernah memanfaatkan situasi serupa musim ini. Namun dari tayangan ulang, terlihat jelas David Raya memang mendapat gangguan cukup besar. Kiper asal Spanyol tersebut tampak sulit bergerak saat mencoba menghalau bola. Situasi inilah yang akhirnya membuat wasit Chris Kavanagh memutuskan membatalkan gol West Ham. VAR kemudian memperkuat keputusan tersebut setelah pemeriksaan beberapa sudut kamera. Arsenal Dinilai Main dengan Cara Legal Scholes juga menyoroti tudingan bahwa Arsenal selama ini terlalu agresif saat situasi bola mati. Menurutnya, gaya bermain tim asuhan Mikel Arteta masih masuk kategori legal. Ia merasa banyak orang hanya melihat hasil akhirnya tanpa memperhatikan detail duel di kotak penalti. Padahal menurut Scholes, ada perbedaan besar antara duel fisik biasa dan pelanggaran jelas terhadap kiper. Pernyataan itu cukup mengejutkan karena Scholes termasuk sosok yang beberapa kali melontarkan kritik kepada Arsenal musim ini. Namun kali ini ia memilih bersikap objektif terhadap keputusan wasit. Legenda The Red Devils itu juga menilai kekuatan fisik pemain lawan menjadi faktor penting dalam insiden tersebut. Raya dianggap benar-benar kehilangan keseimbangan akibat tarikan dan tekanan di sekitarnya. Nicky Butt Malah Ingin VAR Dihapus Berbeda dengan Scholes, mantan pemain Manchester United lainnya yakni Nicky Butt justru kembali menyerang penggunaan VAR. Ia merasa teknologi itu semakin membuat sepak bola penuh perdebatan. Butt sebenarnya mengakui adanya pelanggaran terhadap David Raya. Namun menurutnya, kontroversi muncul karena publik membandingkan kejadian itu dengan aksi Arsenal di laga-laga sebelumnya. Ia menilai VAR terlalu sering memunculkan perdebatan panjang yang akhirnya membuat pertandingan kehilangan emosi alami sepak bola. Karena itulah Butt berharap teknologi tersebut suatu saat dihapus dari Premier League. Meski kontroversi terus muncul, Arsenal tetap pulang dengan tiga poin penting dari London Stadium. Kemenangan itu membuat The Gunners menjaga persaingan di papan atas Premier League hingga akhir musim.

Paul Scholes Bela Arsenal soal VAR, Gol West Ham Memang Layak Dianulir Read More »

Toni Kroos Kaget Lihat Real Madrid Tak Berkutik, Barcelona Dinilai Terlalu Dominan

Arenabetting – Kekalahan Real Madrid dari Barcelona di El Clasico terbaru ternyata meninggalkan kesan mendalam bagi Toni Kroos. Mantan gelandang Los Blancos itu mengaku jarang melihat Madrid tampil tanpa harapan seperti pada laga di Camp Nou. Dalam pertandingan yang berlangsung panas tersebut, Barcelona sukses menang 2-0 lewat gol cepat Marcus Rashford dan Ferran Torres. Dua gol di awal laga langsung membuat Blaugrana mengontrol permainan sejak menit pertama. Hasil itu sekaligus memastikan gelar La Liga musim 2025/2026 jatuh ke tangan Barcelona. Los Blancos kini sudah tidak punya peluang mengejar rival abadinya karena kompetisi hanya menyisakan tiga pekan. Kroos yang selama bertahun-tahun menjadi bagian penting Real Madrid tampak cukup terkejut melihat performa mantan timnya. Ia bahkan merasa skor 0-2 masih tergolong beruntung untuk El Real. Kroos Jarang Lihat Madrid Seperti Ini Toni Kroos mengaku merasakan sesuatu yang berbeda saat menyaksikan El Clasico kali ini. Menurutnya, Real Madrid terlihat kehilangan aura dan keyakinan untuk bangkit sepanjang pertandingan. Mantan gelandang Timnas Jerman tersebut merasa Barcelona benar-benar menguasai situasi sejak awal laga. Bahkan setelah unggul dua gol, Blaugrana tetap terlihat jauh lebih nyaman memainkan tempo pertandingan. Kroos sampai mengatakan dirinya lega ketika pertandingan selesai. Ia menilai Madrid kesulitan memberikan ancaman serius dan nyaris tidak punya momentum untuk membalikkan keadaan. Pernyataan itu tentu cukup mengejutkan karena Kroos selama ini dikenal sangat menghormati mentalitas Los Blancos. Namun kali ini, ia merasa level permainan Madrid memang jauh di bawah Barcelona. Barcelona Terlihat Terlalu Nyaman Sepanjang pertandingan, Barcelona memang tampil lebih dominan dibanding rivalnya. Blaugrana unggul dalam penguasaan bola sekaligus lebih agresif menciptakan peluang. Marcus Rashford dan Ferran Torres menjadi dua pemain yang paling merepotkan lini belakang Madrid. Kecepatan serta pergerakan keduanya membuat pertahanan Los Blancos berkali-kali kehilangan koordinasi. Kroos juga merasa Barcelona mulai bermain lebih santai setelah unggul cepat. Menurutnya, tempo pertandingan menurun karena Blaugrana sudah merasa situasi sepenuhnya berada dalam kendali mereka. Bahkan pada menit-menit akhir laga, suasana pertandingan terasa seperti kedua tim sama-sama menunggu peluit panjang berbunyi. Barcelona puas dengan keunggulan dua gol, sementara Madrid terlihat kesulitan mencari respons. Ruang Ganti Madrid Sedang Tidak Baik Kondisi Real Madrid menjelang El Clasico memang sedang tidak ideal. Beberapa laporan menyebut suasana ruang ganti Los Blancos memanas dalam sesi latihan sebelum pertandingan. Aurelien Tchouameni dan Federico Valverde bahkan dikabarkan sempat terlibat adu pukul. Situasi itu diyakini ikut memengaruhi fokus tim saat menghadapi laga paling penting musim ini. Meski begitu, Kroos menolak menyebut kurangnya motivasi sebagai masalah utama Madrid. Menurutnya, para pemain tetap punya semangat besar, hanya saja hal tersebut tidak cukup untuk menghadapi Barcelona yang sedang sangat kuat. Masalah terbesar El Real justru terlihat dari sisi permainan yang kurang terorganisasi. Mereka kesulitan mengimbangi intensitas dan kontrol bola milik Blaugrana sepanjang laga. Barcelona Tutup Musim dengan Superior Kemenangan di El Clasico menjadi penutup sempurna perjalanan Barcelona musim ini. Blaugrana tampil sangat konsisten hingga akhirnya sukses merebut kembali gelar La Liga dari tangan rival abadinya. Di sisi lain, Los Blancos harus menerima kenyataan pahit gagal mempertahankan dominasi domestik. Banyak pihak mulai menilai Madrid membutuhkan perubahan besar untuk musim depan. Komentar Toni Kroos pun semakin memperlihatkan betapa timpangnya kekuatan kedua tim dalam laga tersebut. Bahkan legenda Madrid sendiri mengakui Barcelona tampil jauh lebih superior. Kini perhatian publik mulai tertuju pada langkah Real Madrid di bursa transfer musim panas. Setelah musim yang penuh tekanan, Los Blancos jelas tidak ingin kembali tertinggal jauh dari Blaugrana musim depan.

Toni Kroos Kaget Lihat Real Madrid Tak Berkutik, Barcelona Dinilai Terlalu Dominan Read More »

Claudio Ranieri Siap Latih Italia, Azzurri Cari Jalan Keluar dari Masa Sulit

Arenabetting – Timnas Italia kembali berada dalam situasi yang tidak nyaman setelah kursi pelatih utama kosong. Kondisi itu muncul usai Gennaro Gattuso memilih mundur menyusul kegagalan Italia lolos ke Piala Dunia 2026. Kegagalan tersebut membuat luka lama Azzurri kembali terbuka. Untuk ketiga kalinya secara beruntun, Italia gagal tampil di ajang sepak bola terbesar dunia. Di tengah situasi penuh tekanan itu, nama Claudio Ranieri tiba-tiba kembali muncul ke permukaan. Pelatih senior berusia 74 tahun tersebut kini membuka peluang untuk bergabung dengan Timnas Italia. Padahal sebelumnya Ranieri sempat menolak tawaran dari federasi sepak bola Italia. Saat itu, ia memilih tetap fokus dengan pekerjaannya bersama AS Roma. Ranieri Kini Mulai Membuka Pintu Claudio Ranieri mengaku situasinya sekarang sudah berbeda dibanding beberapa waktu lalu. Karena sudah tidak terikat pekerjaan lain, ia merasa lebih leluasa menerima tawaran baru. Mantan pelatih Leicester City tersebut menegaskan dirinya tidak ingin buru-buru menutup kemungkinan melatih Timnas Italia. Jika memang ada panggilan resmi, ia siap mempertimbangkannya dengan serius. Ranieri juga merasa kesempatan bekerja untuk negara adalah sesuatu yang spesial. Karena itu, ia tidak ingin menolak begitu saja apabila federasi benar-benar membutuhkannya. Pernyataan itu langsung membuat publik Italia kembali ramai membahas peluang sang pelatih veteran menangani Azzurri. Banyak fans merasa pengalaman Ranieri bisa membantu Italia keluar dari masa sulit. Italia Masih Cari Sosok yang Tepat Federasi sepak bola Italia memang masih sibuk mencari sosok ideal untuk membangun ulang tim nasional. Nama Antonio Conte sempat menjadi kandidat terkuat dalam beberapa pekan terakhir. Namun hingga sekarang belum ada keputusan pasti soal siapa yang akan mengisi kursi pelatih. Situasi itu membuat beberapa nama lain mulai masuk dalam pembicaraan publik. Ranieri dianggap punya pengalaman panjang di sepak bola Italia maupun Eropa. Meski usianya sudah tidak muda, kemampuannya membangun atmosfer tim tetap mendapat banyak pujian. Azzurri sendiri memang membutuhkan sosok yang bisa mengangkat mental pemain. Setelah gagal lolos ke tiga edisi Piala Dunia beruntun, tekanan terhadap tim nasional Italia terasa semakin besar. Ranieri Siap Ambil Peran Apa Pun Menariknya, Ranieri tidak hanya membuka peluang sebagai pelatih kepala. Ia juga mengaku siap membantu Timnas Italia dalam posisi lain seperti direktur tim. Menurutnya, membantu negara jauh lebih penting dibanding memikirkan jabatan tertentu. Karena itu, ia bersedia mengambil peran apa pun jika memang dibutuhkan. Sikap tersebut memperlihatkan kecintaan besar Ranieri terhadap sepak bola Italia. Meski sebelumnya sudah beberapa kali menyatakan pensiun, semangatnya ternyata belum benar-benar hilang. Mantan juru taktik Leicester City itu memang dikenal sebagai figur yang dekat dengan pemain. Pengalamannya menghadapi berbagai situasi sulit menjadi salah satu alasan namanya kembali diperhitungkan. Misi Berat Kembalikan Azzurri ke Jalur Juara Siapa pun pelatih berikutnya nanti, tugas yang menunggu jelas tidak mudah. Italia harus segera bangkit setelah periode buruk yang cukup panjang dalam sepak bola internasional. Azzurri sebenarnya masih memiliki banyak pemain berkualitas. Namun performa tim dalam beberapa tahun terakhir terlihat kurang stabil dan kehilangan identitas permainan. Karena itulah pengalaman pelatih senior seperti Ranieri mulai dianggap penting. Ia dinilai mampu membawa ketenangan sekaligus memperbaiki mental skuad Italia yang sedang terpuruk. Kini publik tinggal menunggu langkah federasi. Jika Claudio Ranieri benar-benar kembali dari masa pensiun untuk menangani Azzurri, cerita menarik lain tampaknya siap hadir dalam perjalanan sepak bola Italia.

Claudio Ranieri Siap Latih Italia, Azzurri Cari Jalan Keluar dari Masa Sulit Read More »

James Rodriguez Bantah Isu Pensiun, Masih Mau Main Beberapa Tahun Lagi

Arenabetting – James Rodriguez kembali jadi bahan perbincangan jelang Piala Dunia 2026. Gelandang senior Timnas Kolombia itu ramai dikabarkan bakal mengakhiri karier setelah turnamen terbesar dunia tersebut selesai digelar. Rumor itu muncul karena kontrak James bersama Minnesota dikabarkan habis pada Juni 2026. Banyak yang mulai menduga sang playmaker akan memilih pensiun setelah perjalanan panjang kariernya di sepak bola. Namun kabar tersebut ternyata langsung dibantah oleh James Rodriguez sendiri. Mantan bintang Real Madrid itu memastikan dirinya masih belum punya rencana gantung sepatu dalam waktu dekat. Pemain berusia 34 tahun tersebut malah merasa masih sanggup bermain di level kompetitif selama beberapa tahun ke depan. Fokus utamanya kini hanya tertuju pada Piala Dunia bersama Timnas Kolombia. James Masih Belum Mau Berhenti James Rodriguez terlihat cukup santai menanggapi rumor soal pensiun. Ia merasa kabar tersebut muncul tanpa sumber yang jelas dan hanya dibuat untuk menarik perhatian publik. Menurutnya, keputusan pensiun adalah hal pribadi yang hanya diketahui oleh dirinya sendiri. Karena itu, James merasa isu tersebut terlalu dibesar-besarkan oleh media dan media sosial. Mantan pemain Bayern Munchen itu juga menegaskan kondisi fisiknya masih cukup bagus. Ia merasa masih mampu bersaing dan menikmati sepak bola profesional dalam beberapa musim ke depan. Pernyataan tersebut tentu membuat fans Kolombia sedikit lega. Banyak pendukung Los Cafeteros masih berharap James bisa terus menjadi sosok penting di tim nasional. Karier James Penuh Perjalanan Panjang Selepas meninggalkan Real Madrid pada 2017, perjalanan karier James Rodriguez memang penuh warna. Ia sempat tampil cukup baik bersama Bayern Munchen sebelum mulai berpindah-pindah klub. James kemudian mencoba tantangan baru bersama Everton di Premier League. Setelah itu, kariernya terus berlanjut ke berbagai negara dan kompetisi berbeda. Pemain kreatif Kolombia tersebut sempat bermain di Yunani bersama Olympiacos, lalu pindah ke Qatar memperkuat Al Rayyan. Setelah itu ia juga mencicipi kompetisi Brasil bersama Sao Paulo. Petualangan James belum berhenti sampai di sana. Ia sempat kembali ke La Liga bersama Rayo Vallecano sebelum melanjutkan karier ke Meksiko dan akhirnya bermain di MLS bersama Minnesota. Fokus Besar Menuju Piala Dunia 2026 Saat ini James Rodriguez memilih fokus penuh untuk persiapan Piala Dunia 2026. Turnamen tersebut terasa sangat penting karena mungkin menjadi kesempatan terakhirnya tampil di ajang terbesar sepak bola dunia. Kolombia sendiri tergabung di Grup K bersama Portugal, Uzbekistan, dan DR Congo. Grup itu dianggap cukup menarik karena mempertemukan beberapa gaya permainan berbeda. James diyakini masih akan menjadi salah satu pemimpin utama Los Cafeteros. Pengalaman dan visi bermainnya tetap sangat dibutuhkan di tengah banyaknya pemain muda Kolombia saat ini. Mantan pemain Real Madrid itu tampak sangat antusias menyambut turnamen tersebut. Ia ingin membantu Kolombia melangkah sejauh mungkin di Piala Dunia nanti. Masa Depan Masih Terbuka Selepas Piala Dunia 2026, James Rodriguez kabarnya baru akan mulai memikirkan langkah berikutnya dalam karier. Ia masih membuka peluang bertahan di MLS atau mencari tantangan baru. Meski sudah tidak bermain di level elite Eropa, kualitas James tetap mendapat perhatian banyak fans sepak bola. Teknik, visi umpan, dan kreativitasnya masih menjadi ciri khas yang sulit hilang. Peraih Puskas Award 2014 itu juga merasa motivasinya bermain sepak bola belum habis. Karena itulah isu pensiun dianggap terlalu cepat untuk dibicarakan saat ini. Kini James hanya ingin menikmati setiap momen bersama Kolombia. Soal pensiun, sang playmaker tampaknya masih belum ingin buru-buru mengambil keputusan besar tersebut.

James Rodriguez Bantah Isu Pensiun, Masih Mau Main Beberapa Tahun Lagi Read More »

Mbappe Mulai Lelah di Real Madrid, Terus Jadi Sasaran Kritik Musim Ini

Arenabetting – Situasi Kylian Mbappe di Real Madrid mulai ramai jadi sorotan. Penyerang asal Prancis itu kabarnya merasa lelah karena terus dijadikan kambing hitam atas kegagalan Los Blancos musim ini. Sudah dua musim Mbappe berseragam Real Madrid sejak datang pada 2024. Namun hingga kini, ia masih belum mampu mempersembahkan gelar La Liga maupun Liga Champions untuk klub raksasa Spanyol tersebut. Padahal secara individu performa Mbappe sebenarnya tetap tajam. Musim lalu ia sukses meraih sepatu emas Eropa sekaligus menjadi top skor La Liga, sementara musim ini namanya kembali bersaing di daftar pencetak gol terbanyak. Meski begitu, kegagalan Madrid meraih trofi besar membuat tekanan kepada Mbappe semakin besar. Banyak pihak mulai menilai kehadiran sang superstar justru belum membawa perubahan signifikan untuk Los Blancos. Mbappe Jadi Sasaran Kritik Fans Madrid Menurut beberapa laporan, suasana di sekitar Mbappe mulai terasa tidak nyaman dalam beberapa bulan terakhir. Fans Real Madrid disebut mulai kehilangan kesabaran setelah klub kembali menutup musim tanpa gelar utama. Aksi Mbappe yang sempat berlibur di tengah proses pemulihan cedera juga memunculkan kritik baru. Sebagian pendukung Los Blancos merasa momen tersebut kurang tepat mengingat situasi tim sedang buruk. Bukan cuma dari luar lapangan, hubungan Mbappe dengan ruang ganti juga sempat dirumorkan tidak sepenuhnya harmonis. Situasi itu membuat tekanan terhadap sang striker semakin besar. Walau begitu, banyak pihak merasa kritik kepada Mbappe terlalu berlebihan. Sebab secara statistik, performa individu pemain Prancis tersebut masih termasuk salah satu yang terbaik di Eropa. Hubungan dengan Xabi Alonso Ikut Disorot Sebelumnya sempat muncul rumor soal hubungan Mbappe dengan pelatih Xabi Alonso yang kurang berjalan baik. Spekulasi itu makin liar setelah Alonso akhirnya harus meninggalkan kursi pelatih Real Madrid. Meski belum ada konfirmasi resmi, banyak media Spanyol mulai mengaitkan suasana ruang ganti dengan hasil buruk tim musim ini. Mbappe pun kembali menjadi nama yang paling sering disorot. Situasi tersebut membuat mantan pemain Paris Saint-Germain itu berada dalam tekanan luar biasa. Semua perhatian publik seperti terus mengarah kepadanya setiap kali Madrid gagal meraih hasil positif. Padahal masalah Real Madrid musim ini dinilai jauh lebih kompleks. Inkonsistensi permainan, cedera pemain, hingga situasi internal klub ikut menjadi faktor penting kegagalan Los Blancos. Mbappe Pilih Fokus Pulih Kabarnya, Mbappe tidak akan tampil dalam tiga laga tersisa Real Madrid di La Liga musim ini. Sang pemain ingin fokus memulihkan kondisi fisiknya agar siap tampil maksimal di Piala Dunia 2026. Keputusan itu juga diyakini berkaitan dengan situasi mental Mbappe yang sedang cukup lelah. Setelah terus menjadi sasaran kritik, ia memilih menjauh sejenak dari tekanan besar di Madrid. Bernabeu sendiri diperkirakan tetap panas dalam dua laga kandang terakhir musim ini. Fans Los Blancos diyakini akan meluapkan kekecewaan setelah tim gagal meraih trofi selama dua musim beruntun. Karena itulah Mbappe dianggap lebih memilih menghindari situasi yang bisa memperburuk atmosfer di sekitar dirinya maupun klub. Mbappe Ingin Buka Lembaran Baru Meski musim ini terasa berat, Mbappe belum kehilangan ambisi besar bersama Real Madrid. Ia masih ingin membuktikan diri bisa membawa Los Blancos kembali berjaya musim depan. Striker Timnas Prancis tersebut diyakini ingin memulai segalanya dari awal setelah melewati periode penuh tekanan. Fokus utamanya kini adalah kembali bugar dan menemukan ketenangan mental. Dengan kualitas yang dimilikinya, banyak pihak percaya Mbappe masih bisa menjadi pusat proyek besar Real Madrid. Namun ia jelas membutuhkan dukungan yang lebih stabil dari klub maupun lingkungan sekitarnya. Kini perhatian Mbappe sepenuhnya tertuju pada pemulihan cedera dan Piala Dunia 2026. Setelah itu, sang bintang tampaknya siap mencoba membuka cerita baru bersama Los Blancos di musim berikutnya.

Mbappe Mulai Lelah di Real Madrid, Terus Jadi Sasaran Kritik Musim Ini Read More »

Chelsea Fokus Cari Manajer Baru, Xabi Alonso Jadi Kandidat Terdepan

Arenabetting – Chelsea mulai serius bergerak mencari manajer anyar untuk musim depan. Setelah menjalani musim yang kembali penuh tekanan, The Blues ingin segera menemukan sosok yang tepat untuk membangun tim lebih stabil. Beberapa nama sempat muncul dalam daftar incaran klub asal London tersebut. Mulai dari Xavi Hernandez hingga Cesc Fabregas pernah dikaitkan dengan kursi panas di Stamford Bridge. Namun belakangan, bursa calon pelatih Chelsea mulai mengerucut. Kini hanya tersisa tiga nama yang benar-benar masuk pertimbangan utama manajemen klub. Dari ketiga kandidat tersebut, nama Xabi Alonso kabarnya menjadi favorit terkuat. Mantan gelandang Real Madrid itu dinilai cocok menangani proyek jangka panjang Chelsea yang dipenuhi pemain muda. Xabi Alonso Jadi Favorit Utama Petinggi Chelsea diyakini sangat tertarik dengan gaya kepelatihan Xabi Alonso. Meski kariernya sebagai pelatih masih tergolong muda, Alonso dianggap punya visi permainan modern yang jelas. Sebelumnya Alonso sempat menangani Real Madrid, tetapi harus berpisah pada awal tahun 2026. Meski begitu, reputasinya sebagai pelatih muda potensial tetap mendapat perhatian banyak klub besar Eropa. Chelsea melihat Alonso sebagai sosok yang mampu membangun identitas permainan baru untuk The Blues. Kemampuannya mengembangkan pemain muda menjadi salah satu nilai plus terbesar. Hal itu terasa cocok dengan kondisi skuad Chelsea saat ini. Klub asal London tersebut memang dipenuhi pemain muda berbakat yang masih membutuhkan arahan dan kestabilan taktik. Iraola dan Marco Silva Masih Dipertimbangkan Selain Xabi Alonso, Chelsea juga memasukkan nama Andoni Iraola dan Marco Silva dalam daftar kandidat utama. Kedua pelatih tersebut dianggap punya pengalaman bagus di Premier League. Andoni Iraola tampil cukup menarik bersama Bournemouth dalam beberapa musim terakhir. Gaya bermain agresif dan intens miliknya membuat banyak klub mulai melirik pelatih asal Spanyol itu. Kontrak Iraola bersama Bournemouth juga akan habis pada akhir musim ini. Situasi tersebut membuat Chelsea bisa bergerak tanpa perlu membayar biaya kompensasi besar. Sementara itu, Marco Silva juga masih mendapat kepercayaan tinggi di Fulham. Pelatih asal Portugal tersebut berhasil membawa timnya tampil cukup stabil menghadapi persaingan Premier League. Chelsea Mulai Lakukan Kontak Kabarnya, pihak Chelsea sudah mulai melakukan komunikasi dengan ketiga kandidat tersebut. Namun hingga sekarang belum ada keputusan resmi dari salah satu nama yang diincar. Fulham sendiri masih berharap Marco Silva bersedia memperpanjang kontraknya. Klub asal London itu masih ingin mempertahankan pelatih yang dianggap sukses menjaga stabilitas tim. Di sisi lain, Iraola juga mulai diminati beberapa klub lain karena performanya bersama Bournemouth. Situasi itu membuat Chelsea harus bergerak cepat jika benar-benar serius merekrutnya. Meski begitu, fokus utama The Blues tetap tertuju kepada Xabi Alonso. Manajemen klub diyakini masih menunggu respons dari mantan gelandang Liverpool dan Real Madrid tersebut. The Blues Ingin Bangun Era Baru Chelsea memang sedang berusaha membangun ulang fondasi tim setelah beberapa musim tampil tidak konsisten. Pergantian pelatih yang terlalu sering membuat proyek klub sulit berkembang maksimal. Karena itulah pemilihan manajer baru kali ini dianggap sangat penting. The Blues ingin mencari sosok yang bisa bertahan lama sekaligus membentuk identitas permainan yang jelas. Xabi Alonso dianggap punya potensi besar untuk memimpin era baru di Stamford Bridge. Selain memiliki nama besar, ia juga dikenal dekat dengan filosofi sepak bola modern. Kini publik tinggal menunggu keputusan akhir Chelsea. Apakah The Blues benar-benar berhasil mendapatkan Xabi Alonso, atau justru beralih ke Andoni Iraola maupun Marco Silva untuk memulai proyek baru musim depan.

Chelsea Fokus Cari Manajer Baru, Xabi Alonso Jadi Kandidat Terdepan Read More »